Dalam Kerjasama Pembelian Alat Berat Tan Paulin Mengaku Paling Banyak Dirugikan Lenny Silas

Usman Wibisono (KIRI) dan Eunike Lenny SIlas (KANAN) ketika disidangkan di PN Surabaya. (FOTO : istimewa)

Usman Wibisono (KIRI) dan Eunike Lenny SIlas (KANAN) ketika disidangkan di PN Surabaya. (FOTO : istimewa)

SURABAYA (surabayaupdate) – Merasa terus disudutkan, khususnya melalui pemberitaan di sejumlah media membuat Tan Paulin melakukan klarifikasi dan menulis hak jawab. Klarifikasi dan hak jawab Tan Paulin ini disampaikan melalui Rusadi Nurima, salah seorang anggota tim penasehat hukumnya.

Dalam klarifikasinya, Rusadi Nurima menjelaskan beberapa point penting yang ingin Tan Paulin bantah atas laporan Eunike Lenny Silas ke Mabes Polri tanggal 11 September 2014 lalu, terkait tentang kongsi atau kerjasama pembelian 4 alat berat senilai lebih kurang Rp. 3 miliar tersebut.

“Berdasarkan fakta dan bukti yang ada dalam hal kerjasama pembelian alat berat tanggal 17 Mei 2010, Eunike Lenny Silas menyetujui pembelian alat berat dengan modal dan keuntungan rata dengan rincian Tan Paulin 50% dan Eunike Lenny Silas 50%, “ ujar Rusadi.

Kerjasama ini, lanjut Rusadi, tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Eunike Lenny Silas. Di BAP itu Eunike Lenny Silas mengatakan bahwa dirinya menyetujui pembelian alat berat dengan modal bersama dibagi 2 maupun hasil keuntungan dibagi 2 sama rata dengan rincian 50% ; 50%.

“Sebagai awal kerjasama, pembelian alat berat ini di lakukan antara PT United Tractors Indonesia (PT. UTI) dengan PT Sentosa Laju Energy (PT. SLE). Sedangkan realisasi pembayaran sebesar 80 % dilakukan PT. ACC selaku leasing. Alat berat itu sendiri nilainya USD 910,700. Untuk menjamin seluruh sisa pembayaran atas alat berat tersebut ke PT. ACC senilai Rp. 8.481.104.368, PT SLE akhirnya membuka cek tunai kepada PT. ACC, “ ungkap Rusadi.

Berdasarkan keterangan Eunike  Lenny Silas sendiri yang telah sepakat melakukan kerjasama pembelian alat berat dengan komposisi kewajiban modal 50:50, sambung Rusadi, maka kewajiban yang harus diselesaikan Eunike Lenny Silas ke PT. SLE selaku penjamin sisa pembayaran leasing sebesar Rp 4.240.521.184.

“Ini sesuai dengan pengakuan Eunike Lenny Silas. Waktu itu Eunike Lenny Silas menyatakan bahwa ia menyetujui pembelian alat berat dengan modal bersama dibagi 2 begitu pula dengan keuntungan yang diperoleh, harus dibagi 2 dan sama rata. Selain itu, Eunike Lenny Silas juga mengatakan, berdasarkan keterangan Tan Paulin kepada dirinya, angsuran ke-2 set alat berat yang menjadi kewajiban Eunike Lenny Silas tersebut selama 36 bulan angsuran dan pelaksanaan pembayaran angsuran untuk alat berat itu sampai Juni 2011, “ pungkas Rusadi.

Eunike Lenny Silas ketika mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit di Jakarta. (FOTO : ist)

Eunike Lenny Silas ketika mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit di Jakarta. (FOTO : ist)

Masih menurut Rusadi, jika melihat pernyataan ini, nyata sekali terlihat bahwa Eunike Lenny Silas tidak memenuhi kewajiban pembayaran angsuran yang sudah di talangi atau dibayarkan PT. SLE terlebih dahulu sebesar Rp 3.324.925.840.

“Selain tidak memenuhi kewajibannya, Eunike Lenny Silas malah memberikan pernyataan yang menyesatkan seperti dari 4 set alat berat, 2 set alat berat tersebut telah menjadi hak Eunike Lenny Silas namun oleh Tan Paulin telah di atas namakan menjadi milik PT. SLE, sebuah perusahaan milik Tan Paulin, “ tukas Rusadi.

Masih menurut Rusadi, Eunike Lenny Silas dalam setiap pernyataannya seakan-akan tidak mengetahui bahwa alat berat dibeli menggunakan nama PT. SLE. Eunike Lenny Silas seakan-akan mempunyai hak atas sebagian alat berat tersebut.

“Padahal berdasarkan bukti transfer yang telah diserahkan kepada penyidik, Eunike Lenny Silas sempat melakukan pembayaran down payment langsung kepada PT. UTI terhadap kontrak jual-beli alat berat antara PT. SLE dengan PT. UTI. Selain itu, Eunike Lenny Silas juga pernah membayar langsung sebagian cicilan ke PT. ACC atas kontrak-kontrak leasing atas nama PT. SLE dan PT. ACC, “ kata Rusadi.

Fakta lain yang ingin diungkap Tan Paulin melalui penasehat hukumnya ini adalah tentang penghentian alat berat. Rusadi kemudian menjelaskan, berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani kuasa hukum Eunike Lenny Sias tanggal 14 Juni 2011, alat berat akan dihentikan PT. SLE di leasing PT. ACC dan hasilnya akan dibagi dua, antara PT. SLE dan PT. ELS.  Selain itu, Eunike Lenny Silas maupun Tan Paulin harus membayar sisa kewajiban yang harus dibayarkan secara lunas ke PT. ACC.

“Namun penghentian ini dimaknai lain oleh Eunike Lenny Silas, bahkan cenderung disesatkan. Eunike Lenny Silas mempunyai pendapat ia harus mendapatkan kembali uang cicilan atas alat berat tersebut dari PT. ACC selaku leasing, “ ungkap Rusadi.

Berdasarkan bukti-bukti pembayaran dan keterangannya sendiri, lanjut Rusadi, Eunike Lenny Silas membayar cicilan hanya sebanyak 10 kali dengan nilai total  Rp. 915.596.000, padahal jika mengacu pada kewajiban yang harus dibayarkan dan sesuai dengan pengakuan Eunike Lenny Silas sendiri, maka kewajiban Eunike Lenny Silas adalah Rp. 4,465,000,000. Selama ini, Eunike Lenny Silas ada kekurangan dalam hal pembayaran sebesar Rp. 3.324.925.840  untuk kontrak kerjasama pembelian alat berat dengan Tan Paulin. Sudah seharusnya Eunike Lenny Silas membayarkan kekurangan itu ke Tan Paulin. (pay)