JASA PENUKARAN UANG PINGGIR JALAN DIMINTA UNTUK LEBIH TELITI

Jasa penukaran pinggir jalan yang marak di bulan Ramadan. ( FOTO : ilustrasi)

Jasa penukaran pinggir jalan yang marak di bulan Ramadan. ( FOTO : ilustrasi)

SURABAYA (SurabayaUpdate) – Untuk mengantisipasi peredaran uang palsu, Polrestabes Surabaya mendatangi jasa penukaran uang di pinggir-pinggir jalan yang ada di Surabaya. Satu persatu para penjual uang menjelang Lebaran ini diminta berhati-hati setiap kali melakukan transaksi.

Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Suparti mengatakan, selama bulan Ramadan ini, Polrestabes Surabaya memang lebih serius mengawasi peredaran uang, khususnya transaksi yang terjadi di pinggir-pinggir jalan. Cara yang dipakai adalah, mendatangi jasa penukaran uang yang ada di jalan-jalan dan terus melakukan himbauan untuk tetap berhati-hati.

“Himbauan itu bertujuan untuk mencegah peredaran uang palsu yang diprediksi marak, menjelang Hari Raya Idul Fitri yang jatuh tanggal 28 Juli dan 29 Juli mendatang. Untuk itu, Polrestabes Surabaya dan jajarannya terus memantau peredaran uang di jalan-jalan sehingga peredaran uang palsu melalui jasa penukaran uang ini tidak akan terjadi, “ujar Suparti.

Selain mencegah beredarnya uang palsu, lanjut Suparti, kepada para penukar uang di jalan-jalan yang ada di Surabaya, juga diminta berhati-hati akan terjadinya tindak pidana perampasan dan penodongan di jalan sehingga akan merugikan para penjual uang di jalan.

“Membawa uang dalam jumlah banyak dan dipamerkan di jalan-jalan, sangat beresiko. Hal itu akan mengundang para pelaku tindak pidana kriminal jalanan untuk melancarkan aksinya. Untuk itu dihimbau kepada para penukar uang di jalan-jalan ini, untuk tetap bergerombol dan jangan sampai jarak mereka berjauhan dengan rekannya yang lain, “ ungkap Suparti.

Menyikapi masalah uang palsu, Sugiyo (43), warga Jl Krembangan Selatan Surabaya mengaku sudah paham betul dengan uang palsu atau tidak. Pasalnya, Sugiyo sendiri sudah menekuni profesi ini sejak 17 tahun lalu. Untuk membedakan uang itu palsu atau asli, Sugiyo hanya mengandalkan kukunya untuk meraba uang tersebut.

“Tinggal diraba dengan kuku saja sudah ketahuan mana uang palsu dan asli. Saya sudah 17 tahun berprofesi sebagai jasa penukaran uang di pinggir jalan seperti begini, jadi sudah sangat paham betul,” ungkap Sugiyo yang menggelar lapaknya di depan Mapolrestabes Surabaya.

Dengan modal Rp 85 juta yang didapat dari hasil pinjaman dari tetangganya, bapak 2 anak ini mengaku mendapat keuntungan yang cukup lumayan besar, walaupun ia harus menanggung bunga sebesar 5 persen dari modal yang dipinjamnya dari tetangganya tersebut.

Masih menurut Sugiyo, bunga sebesar 5 persen itu tidak menjadi masalah baginya karena hasilnya cukup besar. Bisa dibayangkan, selama bulan Ramadan, Sugiyo mengaku bisa mendapat keuntungan Rp. 500 ribu per harinya. (pay)