Kosasih : Lenny Masih Sakit Tidak Ada Yang Mau Mengerti, Namun Ketika Pauline Sakit Minta Dimengerti

Kosasih, ketua tim penasehat hukum Eunike Lenny Silas sedang memperlihatkan kondisi Lenny yang menggunakan selang kemoport. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Kosasih, ketua tim penasehat hukum Eunike Lenny Silas sedang memperlihatkan kondisi Lenny yang menggunakan selang kemoport. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Meski kondisi Eunike Lenny Silas saat ini masih terbaring lemah di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Surabaya, namun upaya untuk tetap memenjarakan terdakwa dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan batubara senilai Rp. 3,2 miliar ini tidak pernah surut, bahkan semakin gencar.

Ini berbeda dengan Tan Pauline, yang melaporkan Lenny ke Polda Jatim atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan batubara senilai Rp. 3,2 miliar hingga akhirnya Lenny harus diadili di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Kosasih, ketua tim penasehat hukum Eunike Lenny Silas mengatakan, ungkapan bahwa sulit mencari keadilan untuk seorang Eunike Lenny Silas bukan rekayasa. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan Tan Pauline, yang sama-sama terjerat dugaan tindak pidana. Bedanya Lenny sudah berstatus terdakwa sedangkan Tan Pauline masih berstatus tersangka.

“Publik perlu tahu jika saat ini Tan Pauline yang dipanggil Mabes Polri Senin (9/5) lalu atas laporan Eunike Lenny Silas berkaitan dengan tindak pidana penipuan dan penggelapan alat berat, hingga saat ini tak jua memenuhi panggilan penyidik, alasannya sedang sakit dan saat ini sedang dirawat di Singapura, “ ujar Kosasih.

Mengetahui Tan Pauline sakit, sambung Kosasih, dan hal itu diperkuat dengan adanya surat keterangan sakit yang dikirimkan tim penasehat hukumnya ke penyidik di Mabes Polri, mereka meminta para pihak mulai dari kepolisian dan kami tim penasehat hukum Lenny sebagai pelapor untuk mau mengerti keadaan Tan Pauline tersebut.

“Jika kami semua diminta untuk mengerti keadaaan Pauline yang sedang sakit, bagaimana dengan kondisi Lenny yang saat ini sama-sama sakit? Apakah kami yang berjuang untuk dan atas nama Eunike Lenny Silas tidak boleh meminta pengertiannya tentang sakit yang sedang diderita klien kami?, “ papar Kosasih.

Masih menurut Kosasih, setelah majelis hakim memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menggeser pengobatan Eunike Lenny Silas dari RS Bhayangkara Surabaya ke RS Onkologi Surabaya, tim penasehat hukum Lenny sudah berusaha untuk memenuhinya.

Eunike Lenny Silas, terdakwa dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan batubara, terpaksa datang ke PN Surabaya dengan menggunakan mobil ambulance. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Eunike Lenny Silas, terdakwa dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan batubara, terpaksa datang ke PN Surabaya dengan menggunakan mobil ambulance. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

“Namun sayangnya, Rutan Medaeng tidak mengijinkan pemindahan Lenny dari RS Bhayangkara ke RS Onkologi Surabaya dengan alasan tidak adanya perintah tertulis dari majelis hakim. Meski demikian, kami tetap berusaha untuk menghubungi RS Onkologi sambil berkonsultasi dengan dokter yang ada di RS Onkologi tersebut. Sayangnya, RS Onkologi tidak bisa menerima pasien untuk dilakukan opname saat ini, “ tukas Kosasih.

Opname yang dimaksud Kosasih ini adalah pasien dari luar yang ingin masuk ke RS. Onkologi kemudian minta dilakukan opname, padahal pasien itu bukan yang sejak awal sudah mendapat perawatan dokter RS Onkologi. Mengapa RS Onkologi untuk sementara ini tidak menerima kehadiran pasien untuk diopname di rumah sakit ini?

“Pertama, di RS. Onkologi ini jumlah kamar untuk menginap terbatas, hanya 7 kamar. Saat ini, seluruh ruangan untuk opname di RS Onkologi ini sudah penuh. Dua, untuk saat ini yang diutamakan adalah pasien yang akan melakukan operasi dan sebelumnya sudah mendapat penanganan dari RS Onkologi atau sudah melakukan schedule terlebih dahulu, “ ujar Kosasih.

Dengan kata lain, sambung Kosasih, bagi pasien yang melakukan schedule baru tidak akan diterima RS Onkologi karena jumlah pasein yang ditangani di rumah sakit ini jumlahnya sangat banyak.

Sebagai bentuk tanggungjawab moral dan memenuhi rasa kemanusiaan, Kosasih akhirnya mendatangi RSUD Dr. Sutomo dengan harapan Eunike Lenny Silas bisa diterima di RSUD Dr Sutomo dan bisa dilakukan opname di rumah sakit ini.

“Ternyata di RSUD Dr. Sutomo saat ini kondisinya juga sama, penuh. Karena RSUD Dr. Sutomo maupun RS. Onkologi tidak bisa menerima Lenny karena penuh, maka RS Bhayangkara mengundang dokter dari RS Onkologi untuk bisa mengkonsultasikan kondisi Lenny. Bagaimana hasilnya? Untuk saat ini rencana itu tak juga dilaksanakan, “ kata Kosasih.

Untuk saat ini, masalah pengawasan berada di tangan Rutan Medaeng karena Lenny sudah sempat masuk ke rutan. Jadi, kalaupun jaksa ingin memindahkan Lenny ke rumah sakit lain, walaupun itu atas perintah hakim, harus juga disertakan pernyataan tertulis bukan hanya lisan atau diucapkan di muka persidangan

Dengan kondisi kesehatan yang masih terganggu, Eunike Lenny SIlas memaksakan diri untuk datang ke persidangan. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Dengan kondisi kesehatan yang masih terganggu, Eunike Lenny SIlas memaksakan diri untuk datang ke persidangan. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

“Sampai saat ini kan masih belum jelas juga, apakah Lenny ini statusnya di bantarkan, ditangguhkan atau bagaimana? Kalau hanya Lenny ini dimasukkan ke rumah sakit tujuannya untuk mendapat pengobatan sementara, ya biarkan saja Lenny di rawat di RS Bhayangkara sampai sembuh. Artinya, sampai Lenny benar-benar bisa melakukan aktivitasnya dan sehat secara jasmani dan rohani, “ tukas Kosasih

Namun, sambung Kosasih, perintah hakim di muka persidangan waktu itu untuk membawa Lenny ke RS Onkologi adalah sebuah pembantaran. Selain perintah itu harus diucapkan di muka persidangan, juga harus disertai dengan surat keterangan yang berisi bahwa Lenny benar-benar dibantarkan. Pengadilan juga diharapkan untuk tertib secara administrasi sehingga jika terjadi apa-apa dengan Lenny, akan secara jelas terlihat siapa yang nantinya bertanggungjawab.

Tidak adanya pihak-pihak yang mau mengalah dan mengedepankan hak seorang terdakwa untuk mendapatkan perawatan medis yang prosedur akhirnya membuat tim kuasa hukum Lenny mengalah. Saat ini jalan yang ditempuh adalah meminta kepada RS Bhayangkara Surabaya untuk berkoordinasi dengan dokter Onkologi dari rumah sakit pemerintah dalam hal ini RSUD Dr. Sutomo Surabaya.

“Mengapa harus dokter pemerintah? Biar adil saja, jangan sampai kita dituding melakukan rekayasan atau sedang memainkan sebuah sinetron. Jangan sampai nanti dibilang lagi kalau Lenny harus memainkan sebuah peran layaknya sebuah drama. Kalau dipilihnya dokter Onkologi dari rumah sakit pemerintah masih juga dicurigai, saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana memperjuangkan kesembuhan untuk seorang Eunike Lenny Silas, “ kata Kosasih.

Jika memang seluruh pihak terus saja bersikukuh untuk memenjarakan Lenny dengan mengabaikan rasa kemanusiaan, dengan mengabaikan kondisi kesehatan Lenny seperti sekarang, kepada majelis hakim yang menyidangkan perkara ini, silahkan langsung vonis aja. Langsung jatuhkan hukuman pidana kepada Eunike Lenny Silas, tanpa harus capek-capek melakukan pemeriksaan.

Bagaimana tanggapan kuasa hukum Tan Pauline terkait hal ini? Alexander Arif, kuasa hukum Tan Pauline saat dihubungi dimintai tanggapannya tentang hal ini, memilih tidak menjawab sms yang dikirimkan ke ponselnya. (pay)