Makorem 084/BJ Difogging

Tidak ada komentar 1641 views
Makorem 084/BJ sedang dilakukan fogging, untuk mencegah demam berdarah. (FOTO : penrem 084/BJ untuk surabayaupdate.com)

Makorem 084/BJ sedang dilakukan fogging, untuk mencegah demam berdarah. (FOTO : penrem 084/BJ untuk surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Menghadapi banyaknya kasus demam berdarah saat ini terlebih banyaknya pasien yang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, Korem 084/BJ mengusir nyamuk penyebab demam berdarah dengan cara fogging.

Pengusiran nyamuk demam berdarah dengan cara di fogging tersebut, dilakukan di Makorem 084/BJ dan radius 100 meter di sekitar makorem. Adapun tempat-tempat di Makorem yang mendapatkan kesempatan untuk di fogging yaitu halaman Makorem 084/BJ dan panti asuhan.

Fogging yang dilaksanakan Jumat (13/2) tersebut, selain halaman dan seluruh ruangan yang ada di gedung Makorem 084/BJ, akan dilakukan juga di kediaman Danrem, Kasrem, mess dan perumahan dinas Korem 084/BJ.

Dalam rilis yang dibuatnya, Kapenrem 084/BJ, Mayor Inf Drs. Rudy Sudjatmiko menjelaskan, fogging ini dilakukan setelah ada perintah dari Kasrem 084/BJ Letkol Inf Agung Dwi Kuncoro, Dadenkesyah 05-04-04 Surabaya Letkol Ckm dr. Subandono Bambang Indrasto SPM,MM.

“Setelah mendapat perintah Kapenrem 084/BJ, Kapenrem 084/BJ kemudian merintahkan 4 orang anggota untuk melaksanakan fogging atau pengasapan baik di seluruh ruangan yang berada di gedung Makorem 084/BJ, halaman makorem hingga ke panti asuhan, “ ujar Rudi Sudjatmiko.

Pelaksanaan fogging ini, lanjut Rudi, juga disaksikan seluruh perwira yang bertugas di Makorem 084/BJ, seluruh bintara, tamtama dan PNS yang berdinas di Makorem 084/Bhaskara Jaya.

Sementara itu, Serma Daniel, salah satu petugas lapangan dari Denkesyah 05-04-04 Surabaya menjelaskan, fogging atau pengasapan dan lazim juga disebut pengkabutan menjadi salah satu metode yang sering digunakan dalam pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (DBD).

“Pada metode fogging ini, suatu lokasi disemprot dengan insektisida menggunakan mesin. Fogging dalam dosis tertentu ini bertujuan memberantas nyamuk dewasa, atau yang sudah bisa terbang berpindah-pindah. Menghadapi musim penghujan, sebaiknya fogging dapat dilaksanakan secara rutin setiap 3 bulan, “ ujar Daniel.

Karenakan kasus demam berdarah dari tahun-ketahun cenderung meningkat, lanjut Daniel, fogging sebagai salah satu metode pemberantasan sarang nyamuk DBD, masih tetap menjadi alternatif pilihan, walaupun banyak ahli masih mempertanyakan efektifitas pemberantasan sarang nyamuk DBD dengan metode fogging.

Menurut peneliti dari Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Dr. Budi Haryanto, supaya fogging ini menjadi efektif, ada beberapa tips yang harus diperhatikan dalam rangka pemberantasan sarang nyamuk DBD.

Tips pertama adalah minimal beradius 100 meter. Maksudnya adalah pelaksanaan fogging sebaiknya tidak dilakukan per kasus, seperti yang kerap dilakukan saat ini. Fogging juga sebaiknya dilakukan dalam jarak 100 meter di sekeliling tempat tinggal penderita DBD. Hal ini dikarenakan, 100 meter adalah jarak optimal bagi nyamuk DBD untuk berpindah tempat.

Rumah dalam radius 100 meter berpeluang besar terkena virus DBD. Radius 100 meter adalah ketentuan bila hanya terdapat satu korban. Jika korban lebih dari 3 makan radius bertambah lebih dari 100 meter.

Tips kedua adalah perhatikan dosis. Sering insektisida dan solar tidak berimbang. Untuk itu, penyemprotan harus memperhatikan dosis yang tercatat dalam standar operasional. Bila insektisida terlalu sedikit, maka penyemprotan tidak memberikan hasil maksimal dan hanya meninggalkan bau minyak tanah yang mengganggu kenyamanan. Dosis yang tidak tepat juga dikhawatirkan membuat nyamuk resisten terhadap insektisida.

Awasi arah angin adalah tips ketiga. Arah angin harus menjadi perhatian. Karena angin yang akan menyebarkan semprotan insktisida ke seluruh wilayah dalam radius tertentu. Angin juga yang membawa nyamuk terbang berpindah menghindari pestisida. Dari beberapa penelitian dinyatakan, penyemprotan yang membaca arah angin terbukti lebih efektif. (penrem 084/pay)