Sebelum Membunuh Istrinya, Suparman Melaksanakan Sholat Isya Di Mushola Dan Menjadi Imamnya

Beberapa anggota polisi sedang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Beberapa anggota polisi sedang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP)

SURABAYA (surabayaupdate) – Dugaan pembunuhan yang dilakukan Suparman terhadap Arvita Tri Megawati meninggalkan sejumlah kisah menarik. Selain dugaan pembunuhan ini dilakukan dihadapan anak mereka yang masih berusia 6 bulan, Suparman sempat melaksanakan sholat Isya.

Sholat Isya itu dilaksanakan Suparman di sebuah mushola yang berada di dekat rumahnya. Salah satu warga yang melihat Suparman melaksanakan sholat Isya di mushola adalah Sulastri.

Ibu dua anak berusia 34 tahun ini menuturkan, sebelum melaksanakan sholat Isya, Suparman sebenarnya hendak menjalankan Sholat Magrib di mushola tersebut. Namun entah mengapa, Suparman tidak jadi menjalankan ibadah sholat Magrib berjamaah di mushola tersebut.

“Yang saya tahu, Suparman ada di mushola bersama dengan empat orang warga lainnya yang waktu itu akan melaksanakan ibadah Sholat Isya. Yang menjadi imamnya ya Suparman, “ ujar Sulastri.

Meski tidak mengetahui secara langsung pembunuhan yang dilakukan Suparman, Sulastri yang mendapat kabar dari warga yang lain, seperti tidak percaya bahwa Suparman bisa begitu tega kepada istrinya.

Kemis (54), Ketua RT 001 Tambak Lumpang menambahkan, sehari sebelum menghabisi nyawa istrinya, Suparman sempat berkeluh kesah tentang masalah ekonomi rumah tangganya yang saat ini sedang kacau.

“Waktu itu, ia mengatakan sangat terpukul karena di PHK dari tempat kerjanya. Selama ini, Suparman bekerja di sebuah perusahaan pelayaran dan sering berlayar. Namun, begitu kontrak kerjanya habis, perusahaan tidak memperpanjang kontrak kerja tersebut, “ ujar Kemis.

Meski hingga kini penyebab pembunuhan sadis ini masih dalam penyelidikan polisi, Kapolsek Sukomanunggal Kompol Yulianto mengatakan, masalah ekonomi rumah tangganya yang begitu sulit itulah membuat Suparman gelap mata dan membunuh istrinya begitu sadisnya.

“Dari keterangan sejumlah saksi, masalah ekonomi yang kemungkinan besar menjadi pemicu terjadinya pembunuhan ini. Pasalnya, begitu tidak bekerja lagi di perusahaan pelayaran, tempat ia bekerja dulu, istri Suparman minta pulang ke Banyuwangi, tempat orang tua kandungnya, “ ujar Yulianto.

Hal inilah, lanjut Yulianto, yang membuat Suparman menjadi stress hingga akhirnya pasangan suami istri ini bertengkar hebat. Dalam posisi tertekan itulah, Suparman nekad menghabisi nyawa istrinya.

“Kami juga diberitahu warga, beberapa waktu yang lalu, istri Suparman ini ternyata pernah melaporkan suaminya ke Polsek Asemrowo atas dugaan tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), “ ungkap Yulianto.

Namun, sambung Yulianto, laporan KDRT ke Polsek Asemrowo tanggal 12 Mei 2015 ini tidak dilanjutkan proses hukumnya karena kedua belah pihak sepakat berdamai dan sang istri memaafkan.

Terkait luka tusuk yang diderita Arvita Tri Megawati, Yulianto mengatakan, ada sekitar 16 luka tusukan. Luka itu terjadi di perut hingga tembus ke punggung, dada kiri ada dua luka, siku kanan, lengan kiri ada 5 luka sabetan, bibir kiri, luka sobek sepanjang 7 cm di paha kiri dan terakhir pada bagian payudaranya. Untuk luka di payudara ini, Suparman tega menyayat puting istrinya tersebut hingga terlepas. (pay)