Tahun 2016, Total Investasi Pengusaha Tiongkok Untuk Property Di Australia Mencapai Rp 240 Triliun

V by Crown Group karya Koichi Takada Architects yang juga diminati para investor asing khususnya investor dari TIongkok. (FOTO : repro/dok pribadi)

V by Crown Group karya Koichi Takada Architects yang juga diminati para investor asing khususnya investor dari TIongkok. (FOTO : repro/dok pribadi)

SURABAYA (surabayaupdate) – Nilai investasi di bidang properti di Australia tahun 2016 mencatat angka yang sangat luar biasa. Pembeli properti asal Tiongkok memiliki permintaan mencapai 80 % dari permintaan negara lain di New South Wales (NSW).

Yang sangat mencengangkan, dari seluruh investor dunia yang menanamkan modalnya dengan cara pembelian properti di Australia, tepatnya di NSW, investor asal Tiongkok menghabiskan uangnya untuk pembelian properti hingga Rp. 240 triliun.

Crown Group, sebuah perusahaan pengembang properti pemenang berbagai penghargaan yang berbasis di Sydney mengumumkan, selain total investasi yang sangat fantastis jumlahnya yang dibukukan investor asal Tiongkok, investor asal Indonesia menempati urutan kedua dengan total permintaan 1,7 % dari seluruh total permintaan luar negeri.

Berdasarkan data yang dikutip dari situs daftar properti asal Tiongkok, juwai.com, data dari Dewan Foreign Investment Review Board (FIRB) Australia, nilai investasi di Australia naik sekitar 30% dari tahun keuangan sebelumnya, yaitu Rp. 60 triliun di tahun 2015 menjadi Rp. 184 triliun.

Sue Jong, Chief of Operations juwai.com mengatakan, investasi Tiongkok untuk properti asing di seluruh dunia diperkirakan akan melampaui Rp. 1000 Triliun pada akhir tahun ini. Australia adalah pasar luar negeri kedua yang paling diminati investor properti Tiongkok, setelah Amerika Serikat, dan sebelum Hongkong, Kanada dan Inggris. Pengeluaran mereka untuk pembelian properti di Australia sekarang hampir Rp. 5 triliun per minggu.

Menanggapi tingginya total investasi yang digelontorkan para pengusaha tiongkok di Australia ini khususnya di NSW, CEO Crown Group, Iwan Sunito mengatakan, jika melihat kapasitas ekonomi Tiongkok saat ini, tidaklah mengherankan bila para pengusaha asal Tiongkok ini merupakan  investasi asing terbesar untuk properti residensial di Australia.

“Bahkan, untuk proyek-proyek Crown Group, investor asal Tiongkok tetap kuat di posisi pertama, disusul investor asal Indonesia di tempat kedua kemudian diikuti investor dari  negara-negara lainnya,” jelas Iwan.

Di proyek Crown Group sendiri, lanjut Iwan, investasi asing asal Indonesia memberikan kontribusi hingga Rp. 1,5 triliun. Nilai ini didapat dari peluncuran proyek Crown Group sebelumnya selama tiga tahun terakhir.

“Total investasi sebesar Rp. 1,5 triliun itu berasal dari gabungan nilai transaksi yang dihasilkan empat proyek Crown Group yang telah diluncurkan, yaitu Arc by Crown Group, Oasis, Infinity dan Waterfall by Crown Group, ” ungkap Iwan.

Selain menerangkan total investasi yang dihasilkan para investor asal Tiongkok, pengusaha properti kelahiran Pangkalan Bun ini juga menjelaskan tentang penelitian baru pembelian properti di Australia.

Iwan kemudian menjabarkan, menurut penelitian baru berdasarkan data yang diperoleh atas permintaan kebebasan informasi Hasan Tevfik dan Peter Liu yang merupakan peneliti di Credit Suisse, orang asing membeli properti di Australia dengan tingkat rata-rata tahunan sebesar Rp. 80 triliun atau setara dengan 25% pasokan hunian baru di NSW dan 16% di Victoria dalam 12 bulan terakhir.

Data yang dikumpulkan dari Credit Suisse pada bulan Maret juga menunjukkan bahwa ada lebih dari 1.500 properti yang dibeli oleh orang asing antara bulan Oktober 2016 hingga Januari 2017, dimana 80% pembeli tersebut asal Tiongkok.

Para pembeli asal Tiongkok ini telah menyumbang hampir 80% permintaan luar negeri di NSW. Sementara kelompok pembeli terbesar kedua, yaitu Indonesia, hanya menyumbang  sebesar 1,7% dari total permintaan luar negeri. Meski demikian, pembeli asal Indonesia di negara bagian NSW ini melebihi pencapaian dari para pembeli asal Amerika Serikat dan Selandia Baru yang menempati urutan ketiga dan keempat.

Menurut data terbaru dari CoreLogic, harga tempat tinggal rata-rata di Sydney meningkat sebesar 18,9% dalam 12 bulan sampai dengan pertengahan Maret. Di Melbourne, harga tempat tinggal meningkat sebesar 14,7%.

Dari Januari 2009, harga hunian di Sydney telah mengalami peningkatan sebesar 106%, begitu juga dengan pertumbuhan harga Melbourne, juga menguat atau meningkat sebesar 89% dalam periode yang sama.

Iwan juga menandaskan, berdasarkan catatan yang dikeluarkan Tevfik dan Liu, di NSW dari Oktober 2016 hingga Januari 2017 ada 1503 properti terjual ke pembeli asing dan nilainya mencapai Rp. 16,3 triliun.

“Pembeli asal Tiongkok memiliki 1,211 hunian atau sebesar 80% dan menyumbang 77% dari total nilai transaksi pembelian yang tercipta. Di NSW, ada sekitar Rp. 2,25 triliun nilai transaksi yang dilakukan pembeli asing pada bulan Oktober 2016, “ papar Iwan.

Jumlah ini, sambung Iwan, naik lebih dari Rp. 4,5 triliun pada bulan November dan Desember. Di Victoria nilai transaksi pada bulan Desember lebih tinggi 50% dibanding bulan November. (pay)