Without Borders, Sebuah Buku Persembahan Anak Hutan Kalimantan Yang Meraih Kesuksesan Menjadi Raja Properti Di Australia

Iwan Sunito (KIRI) dan Teguh Sri Pambudi di acara peluncuran buku Without Borders di Bali. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Iwan Sunito (KIRI) dan Teguh Sri Pambudi di acara peluncuran buku Without Borders di Bali. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

DENPASAR (surabayaupdate) – “Kegagalan dalam hidup kita itu bukanlah sesuatu yang mutlak. Terkadang kegagalan itu memacu kita untuk berbuat lebih besar lagi. Selain itu, dari sebuah musibah besar yang menimpa kita, akan diubah Tuhan menjadi sebuah mujizat terbesar dalam hidup kita ”

Oleh : Parlindungan Parhusip

 

Itulah kalimat yang terucap dari Iwan Sunito, ketika meresmikan peluncuran bukunya yang berjudul Without Borders di Denpasar, Bali, Jumat (18/11). Dalam acara peluncuran buku ini, selain dihadiri Iwan Sunito, Teguh Sri Pambudi selaku penulis buku Without Borders, juga dihadiri beberapa karyawan Crown Grup dan keluarga Iwan Sunito.

Ada sebuah kebanggaan tersendiri yang diungkapkan Iwan Sunito tentang buku Without Borders ini. Iwan yang awalnya tidak mau kisah perjalanan hidupnya ditulis apalagi dijadikan sebuah buku, akhirnya bersedia untuk dibukukan kisah hidupnya karena terus dimotivasi Teguh Sri Pambudi dan diyakinkan Wandi. S Brata.

Motivasi yang akhirnya membuat seorang Iwan Sunito bersedia untuk ditulis kisah hidupnya, mulai pengalaman hidupnya sejak kecil yang sangat miskin hingga akhirnya menjadi raja property di negeri orang adalah kisah hidup Iwan Sunito yang begitu menyakitkan dan menjadi raja properti di Australia, bisa menjadi inspirasi tersendiri bagi anak muda supaya tidak cepat putus asa dan menyerah dalam hidup.

“Saya awalnya risih untuk ditulis kisah hidup saya. Pertimbangan utama mengapa saya menolak untuk ditulis adalah memproteksi keluarga saya. Mengapa dalam sosial media, saya tidak pernah menampilkan keluarga saya, ya karena proteksi itu, “ ungkap Iwan.

Iwan Sunito, anak Surabaya yang dibesarkan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan menjadi raja properti di Australia. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Iwan Sunito, anak Surabaya yang dibesarkan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan menjadi raja properti di Australia. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

We are so private, lanjut Iwan Sunito. Kita harus sangat private untuk keluarga kita, anak-anak kita. Namun akhirnya saya mau untuk ditulis kisah hidup saya untuk menjadi sebuah buku setelah saya bertemu dengan Teguh dan Wandi.

Bagi orang-orang yang sudah mengenal dekat sosok Iwan Sunito, buku Without Borders memuat banyak sekali kisah-kisah memilukan yang dirasakan keluarga Iwan Sunito, mulai dari perjuangan orang tuanya di Surabaya hingga akhirnya sang ayah membawa Iwan Sunito kecil dan kakaknya ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Dikisahkan dalam buku Without Borders ini, Iwan Sunito lahir di Surabaya, Juli 1966 dengan nama Ge Cen Huan yang artinya gembira. Iwan Sunito adalah anak kedua dari pasangan suami istri Handy Sunito (Ge Ping Kuang) dan Susana Satiowijaya (Tio Su Loen).

Handy dan Susana menamakan anak keduanya ini Ge Cen Huan karena tatkala jerit dan tangis sang bayi pecah pertama kalinya, kondisi Handy Sunito dan Susana Satiowijaya sungguh dibalut keprihatinan.

Mengutip isi buku Without Borders ini, waktu Iwan Sunito lahir, kepala keluarga tengah sakit berat. Cairan dalam kantong empedunya mengeras seperti membatu. Meski tak sebesar bola pingpong, namun rasa nyeri di perut kerapkali datang menerjang, membuatnya nyaris semaput.

Dalam buku Without Borders ini juga diceritakan, kelahiran Ge Cen Huan alias Iwan Sunito ini berbeda dengan kelahiran Ge Cen Sin tahun 1965 yang lebih dikenal sebagai Nisin Sunito, kakak kandung Iwan Sunito.

Sekalipun dilahirkan di Surabaya, kota ini hanya menjadi persinggahan awal dalam perjalanan hidup Iwan Sunito. Hampir satu tahun Iwan Sunito menghirup udara Surabaya, waktu Iwan Sunito baru belajar jalan, sang ayah memboyong Iwan Sunito dan ibu serta sang kakak ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, tanah kelahiran sang ayah.

Iwan Sunito menandatangani buku Without Borders milik para undangan di acara peluncuran buku di Bali. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Iwan Sunito menandatangani buku Without Borders milik para undangan di acara peluncuran buku di Bali. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Dibuku yang dibuat Teguh Sri Pambudi selama tiga tahun ini, selain memuat tentang kesengsaraan hidup Iwan Sunito dan keluarganya, juga memuat sebuah kejadian tragis dalam hidupnya yang tidak akan Iwan Sunito lupakan seumur hidupnya, tabrakan yang cukup hebat waktu berlibur bersama tiga temannya di Bali.

Juni 1983, di Rumah Sakit Sanglah Bali, Iwan Sunito tergeletak tak sadarkan diri akibat kecelakaan motor yang begitu hebat dan nyaris merenggut nyawanya. Di tengah kondisinya yang koma, mujizat dari Tuhan pun datang. Iwan bisa melewati masa kritisnya dan dinyatakan sembuh, meski orang tuanya harus memindahkan Iwan dari rumah sakit di Bali ini ke rumah sakit di Singapura.

Ada sebuah pernyataan Iwan Sunito yang ia ucapkan ditengah para undangan yang menyaksikan peluncuran buku Without Borders. Lebih lanjut Iwan mengatakan, memang bagus untuk berkumpul dengan orang-orang yang luar biasa. Namun akan jauh lebih penting lagi berkumpul dengan orang-orang yang melihat bahwa kita luar biasa, mempunyai potensi luar biasa, karena orang-orang itu yang akan membangkitkan semangat kita.

Iwan Sunito memang sudah berhasil membukukan kisah hidupnya, mulai dari perjalanan hidupnya yang begitu pahit hingga Iwan Sunito dinobatkan sebagai raja properti yang paling disegani di Australia karena karya-karyanya yang sangat inovatif. Namun, masih ada keinginan Iwan Sunito yang akan terus ia pegang teguh dalam hidup ini, yaitu bermanfaat bagi orang lain. Iwan ingin, orang-orang bisa meniru kesuksesannya ini. Iwan bahkan tidak segan-segan untuk mengajari mereka yang ingin merasakan karir seperti yang dimiliki Iwan Sunito saat ini. (*)