surabayaupdate.com
HEADLINE INDEKS PENDIDIKAN & KESEHATAN

Teliti Buah Butun Sebagai Anestesi Alami Ikan Kerapu Cantang, Tiga Mahasiswa Teknik Kimia ITS Juara Tiga Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional

Tiga mahasiswa Teknik Kimia ITS yang meraih juara III lomba karya tulis ilmiah nasional. (FOTO : dokumen pribadi untuk surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Kimia

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) raih juara tiga diajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN), yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA), beberapa waktu lalu.

Mahasiswa Fakultas Teknik Kimia ITS angkatan 2021 yang meraih juara tiga tersebut bernama Ramadhita Putra Purnomo, Dwi Mayasari, dan M Sahar Mahdan Ardli.

Berawal dari sebuah mimpi supaya nelayan Indonesia bisa mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam hal revitalisasi perikanan, memotong jalur distribusi, dan meningkatkan kualitas ikan, ketiga mahasiswa ITS ini kemudian membuat suatu penelitian dan menuangkan gagasannya itu dalam sebuah karya tulis berjudul Pemanfaatan Ekstrak Biji Buah Butun atau Barringtonia Asiatica, Sebagai Anestesi Dengan Uji Fitokimia Sebagai Solusi Distribusi Ikan Kerapu Cantang Hidup Segar.

Ketika melakukan penelitian, tiga mahasiswa ini dibimbing langsung Prof. Setiyo Gunawan ST PhD, dosen Jurusan Teknik Kimia (Tekkim) ITS, yang bekerja di Laboratorium Teknik Biokimia.

Dalam karya tulis ilmiahnya itu, ketiga mahasiswa ini, menggagas penelitiannya tersebut dengan menguji efektivitas biji buah butun secara kuantitas dan kualitas atau uji fitokimia, terhadap survival rate ikan kerapu cantang.

Ramadhita Putra Purnomo mengatakan, latar belakang ia dan dua temannya melakukan penelitian tentang efektifitas biji buah butun terhadap survival rate ikan kerapu cantang, karena masih banyaknya nelayan yang mempertahankan kesegaran ikan dengan cara pembekuan.

“Cara ini sangat berdampak negatif atau berdampak buruk terhadap penurunan mutu ikan secara fisik, kimiawi, dan biologis,” ungkap Ramadhita Putra Purnomo, Kamis (14/4/2022).

Mahasiswa yang akrab disapa Rama ini kembali menjelaskan, Oleh karena itu diperlukan solusi inovatif untuk mengatasi masalah mempertahankan kesegaran ikan, khususnya ikan kerapu cantang, dengan cara mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia, salah satunya anestesi menggunakan buah butun.

Berdasarkan literatur penelitian yang diperoleh ketiga mahasiswa ini, sifat anestesi didapat dari senyawa saponin yang terkandun dalam buah butun.

Rama lalu menjelaskan, didalam penelitiannya ini, ia bersama timnya juga menyajikan data dan fakta, mengenai efek anestesi melalui serangkaian metode ilmiah.

Tak hanya itu, penelitian ini dibuat dengan memuat uji fitokimia kandungan saponin pada ekstrak biji buah butun dan uji trial run pada ikan kerapu cantang.

“Uji fitokimia dilakukan menggunakan larutan Asam Klorida. Larutan Asam Klorida ini kemudian direaksikan dengan ekstrak biji buah butun, lalu dikocok selama 10 detik. Hasil pengocokan tersebut menunjukkan bahwa larutan berbuih,” kata Rama.

Dengan demikian, sambung Rama, uji fitokimia yang dilakukan ini menghasilkan kesimpulan, bahwa biji buah butun mengandung saponin.

Masih menurut penjelasan Ramadhita, busa dapat terbentuk karena saponin mempunyai sifat dapat menurunkan tegangan permukaan air.

“Buih di sini dimaksudkan sebagai struktur yang relatif stabil, terdiri dari kantong udara terbungkus dalam lapisan tipis cairan,” ujar Rama.

Sehingga, lanjut Rama, dispersi gas dalam cairan, distabilkan suatu zat penurun tegangan permukaan, dalam hal ini adalah molekul saponin.

Rama pun mengatakan, setelah melewati berbagai proses penelitian, akhirnya dapat disimpulkan, ekstrak biji Barringtonia Asiatica sangat berpotensi sebagai bahan anestetik dengan senyawa metabolit sekunder saponin. Hal itu dibuktikan dari pengukuran secara kuantitas dan kualitas, melalui uji fitokimia.

Hasil terbaik adalah pemingsanan ikan dengan konsentrasi 15 mg/L, yang dapat digunakan untuk transportasi rantai kering kerapu cantang selama tidak lebih dari delapan jam, dengan tingkat kelangsungan hidup 100 persen.

Ekstrak biji Barringtonia Asiatica atau butun, saat proses anestesi, juga mengakibatkan penurunan respon ikan dan gerak operkulum yang melambat, sehingga akan menurunkan tingkat respirasi ikan, yang akan mengganggu proses metabolisme.

“Turunnya metabolisme menyebabkan ikan sulit merespon sehingga akan terjadi penurunan kerja otak pada ikan,” paparnya.

Berbekal penelitiannya bersama dua temannya ini, Ramadhita Putra Purnomo pun berharap, hasil penelitian timnya ini tak hanya dapat membantu peneliti lainnya, tetapi juga bermanfaat bagi para nelayan dan industri.

Lebih lanjut Rama mengatakan, diharapkan nilai jual ikan hidup jauh lebih mahal dibanding ikan yang sudah mati, khususnya nilai jual ikan kerapu cantang, mengingat ikan kerapu cantang ini adalah komoditas ekspor terbesar di Indonesia. (fauzan/humas ITS/pay)

Related posts

PP Property Dan BCA Tawarkan Banyak Keistimewaan Di GDL Privilege Card

redaksi

Mengaku Polisi Buruh Pabrik Ditangkap Petugas Keamanan

redaksi

Ekspor Perdana Kopi Ke Malaysia, Petani Jombang Kirim 12 Ton Senilai Rp. 360 Juta

redaksi