surabayaupdate.com
HEADLINE HUKUM & KRIMINAL INDEKS

Dirut Turbo Internet Diadili Karena Ingin Tahu Perkara Yang Menjerat Suami City Manager Citraland Surabaya

Anwari, Dirut Turbo Net saat diadili di PN Surabaya. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Gara-gara ingin tahu kebenaran informasi terkait permasalahan hukum yang sedang menimpa mantan suami seorang City Manager Citraland Surabaya, Direktur Utama (Dirut) Turbo Net diadili.

Pada persidangan yang terbuka untuk umum, yang digelar diruang sidang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (12/5/2022), Anwari yang menjadi terdakwa perkara dugaan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik melalui media sosial What’sApp, dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan didudukkan dikursi terdakwa.

Anwari yang menjadi terdakwa dalam perkara ini, mendengarkan pembacaan dakwaan yang dibacakan Jaksa Sabetania Paembonan, jaksa yang bertugas di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur.

Dalam surat dakwaan setebal empat halaman tersebut, jaksa Sabetania menjelaskan, dalam dakwaan kesatu, bahwa perbuatan terdakwa Anwari tersebut diancam pidana karena melanggar pasal 45 ayat (3) jo pasal 27 ayat (3) Undang-Undang RI No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi.

Masih mengutip isi surat dakwaan JPU, dalam dakwaan kedua, perbuatan terdakwa Anwari tersebut diancam pidana melanggar pasal 311 ayat (1) KUH Pidana.

Dalam surat dakwaan yang disusun dan ditanda tangani Rista Erna Soelistiowati, SH., MH dan Sabetania R. Paembonan, SH.,MH ini dijelaskan bahwa perbuatan terdakwa Anwari tersebut terjadi di rumahnya, beralamat di Jalan Simo Magersari Kelurahan Simomulyo Kecamatan Sukomanunggal Surabaya, Minggu (11/4/2021) sekitar pukul 22.00 Wib.

Lebih lanjut Jaksa Sabetania menyatakan, pada hari itu, terdakwa Anwari melalui What’sApp (WA) dengan menggunakan handphone merk Samsung 520 Ultra warna hitam miliknya, mengirim pesan ke Asep Fransetiadi yang saat itu sedang berada di rumahnya.

“Isi pesan terdakwa Anwari ke WA Asep Fransetiadi itu : suami Bu Nada Putri (City Manager Citraland Surabaya) saat ini ditahan di Lapas Situbondo,” ujar jaksa Sabetania, saat membacakan surat dakwaannya.

Di Polsek Sukomanunggal, lanjut Sabetania saat membacakan isi surat dakwaan, dia menggelapkan uang perusahaan 322 juta.

“Sesuai keterangannya, uang itu dibuat untuk kebutuhan keluarga. Dalam perkara ini, dia masih (ber) status saksi. Selesai gelar perkara, akan ditingkatkan menjadi tersangka melanggar pasal 374 KUHP tentang penggelapan uang dalam jabatan oleh penyidik Sukomanunggal,” kata Jaksa Sabetania, mengutip isi WA terdakwa Anwari ke Asep Fransetiadi, sebagaimana tertuang dalam surat dakwaan JPU.

Sabetania kembali melanjutkan, korban PT. ADP. Modus : uang perusahaan tidak disetorkan. Berita itu beneran ya?

Dalam surat dakwaan JPU yang dibacakan Sabetania Paembonan itu juga dijelaskan, pesan terdakwa Anwari yang ia kirim ke ponsel Asep Fransetiadi ini kemudian dijawab Asep Fransetiadi keesokan harinya, Senin (12/4/2021). Asep pun mejawab : Waduh ndak tahu pak.

Menanggapi jawaban Asep Fransetiadi ini, terdakwa kemudian menuliskan lagi, apa mungkin uang 322 juta itu dipake bu Nada untuk beli jabatan di Citraland?

Asep Fransetiadi pun menjawab chat terdakwa Anwari tersebut dengan menuliskan : maksudnya gimana?

Jaksa Utama Pratama yang bertugas di Kejati Jatim ini kemudian melanjutkan, sebagai teman kerja Nada Putri Parastati yang menjabat sebagai City Manager Citraland Surabaya, Asep Fransetiadi setelah menerima chat melalui whatsapp dari terdakwa Anwari, kemudian menyampaikannya ke Nada Putri Parastati, Senin (12/4/2021. Waktu itu pukul 08.00 Wib, di Marketing Office Citraland Surabaya.

“Asep Fransetiadi kemudian menunjukkan langsung pesan dari terdakwa Anwari tersebut ke Nada Putri Parastati,” ujar Jaksa Sabetania.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Sabetania ini juga dijabarkan, ternyata pesan melalui whatsapp yang dikirim terdakwa Anwari ke Asep Fransetiadi ini ternyata juga dikirimkan ke beberapa teman kantor Nada Putri Parastati.

“Bahkan, sebagian dari warga kawasan perumahan Citraland, juga menanyakan kebenaran pesan tersebut kepada Nada Putri Parastati,” kata Jaksa Sabetania, mengutip isi surat dakwaan penuntut umum.

Masih berdasarkan isi surat dakwaan penuntut umum yang dibacakan Jaksa Sabetania dimuka persidangan, jumlah keseluruhan orang yang mendapat pesan wa dari terdakwa Anwari ini ada 32 orang

Tiga puluh dua oran itu, diantaranya bernama Gatot Yudo Pratomo warga kompleks Citraland Surabaya.

Gatot ini juga sesama wali murid di Sekolah Citra Berkat, tempat anak Nada Putri Parastati bersekolah. Lalu, sesama warga komplek perumahan Citraland Surabaya yang menerima pesan wa dari terdakwa, bernama Janggan, Sidik Lijandi.

Masih berdasarkan isi surat dakwaan penuntut umum, untuk teman kantor Nada Putri Parastati yang mendapat pesan wa dari terdakwa Anwari, bernama Catharina Dyah Ayu Retno dan Felicia Wiwoho.

Sebagai Direktur Utama PT. Artorius Telemetri Sentosa (Turbo Net) yang bergerak dalam bidang penyelenggaraan jasa akses internet yang melakukan pemasangan jaringan di area Perumahan Citraland Surabaya, terdakwa Anwari pernah mendapat teguran dari pihak manajemen Citraland Surabaya karena telah mengirimkan pesan sebagaimana yang ia kirim ke Asep Fransetiadi, kepada 32 orang yang lain dengan cara terdakwa menulisnya sendiri dalam keadaan sadar, padahal beberapa dari orang yang telah dikirimi pesan tersebut, terdakwa tidak mengenalnya.

Penuntut umum dalam surat dakwaannya juga menjelaskan, bahwa sebelum mengirim pesan menggunakan WA ke 32 orang, termasuk ke teman kerja Nada Putri Parastati, mendapatkan informasi tersebut dari sumber yang terdakwa sendiri tidak mengenal siapa orang tersebut.

Meski tidak mengenal sumber tersebut, terdakwa Anwari tetap mengirimkan berita tersebut kepada beberapa orang.

“Pesan yang terdakwa kirim ini juga sudah menyebar ke akun whatsapp teman-teman kerja serta lingkungan perumahan tempat tinggal Nada Putri Parastati,” papar Sabetania, mengutip isi surat dakwaan.

Oleh karena itu, Jaksa Sabetania juga menyatakan, Nada Putri Parastati yang merasa dirugikan dengan adanya pesan yang terdakwa kirim ke 32 orang tersebut, melaporkan kejadian yang menimpanya ini ke pihak kepolisian.

Surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Sabetania Paembonan ini juga menyatakan, atas perbuatan terdakwa Anwari itu mengakibatkan Nada Putri Parastati beserta anak-anaknya mengalami rasa malu, baik kepada teman-teman kerja maupun kepada warga sekitar perumahan dimana Nada Putri Parastati tinggal.

Dengan tersebarnya pesan yang dikirim terdakwa tersebut juga dinyatakan tidak benar, karena Nada Putri Parastati sejak 24 September 2020 sudah berstatus janda cerai dan jabatan Nada Putri Parastati sebagai City Manager di Citraland Surabaya, diperoleh berdasarkan kinerja dan prestasi, karena di lingkungan kerja Citraland Surabaya tidak mengenal adanya jual beli jabatan.

Tidak sependapat dengan surat dakwaan yang dibacakan JPU, Dio Akbar Rachmadan Purba salah satu penasehat hukum terdakwa secara tegas menyatakan, akan mengajukan keberatan atau eksepsi.

Bukan hanya itu, tim kuasa hukum terdakwa ini juga tidak sependapat dengan pasal yang didakwakan kepada Dirut Turbo Net tersebut.

“Kami keberatan dengan pasal yang didakwakan kepada Anwari. Kami juga mempertanyakan unsur mendistribusikan dan mentransmisikan, apalagi sampai dapat diaksesnya informasi elektronik dan dokumen elektronik, sebagaimana didakwakan dalam dakwaan kesatu,” papar Dio.

Lalu, lanjut Dio, dimana letak pencemaran nama baiknya? Selain itu, tim penasehat hukum terdakwa Anwari juga keberatan mengenai beberapa saksi yang dicantumkan dalam berkas dakwaan.

“Surat dakwaan penuntut umum menyebutkan, ada 32 orang yang mendapat pesan dari terdakwa, namun penuntut umum rencananya hanya menghadirkan beberapa orang saja diantara 32 orang tersebut,” kecam Dio.

Harusnya, sambung Dio, untuk mengetahui kebenaran materiil dari perkara ini, 32 orang itu harus dihadirkan dipersidangan dan didengar kesaksiannya.

Dio kembali menjelaskan, kehadiran 32 orang itu sangat dibutuhkan untuk mengetahui, apakah 32 orang itu benar-benar mendapat pesan wa dari terdakwa Anwari atau hanya ditunjukkan screenshot yang disebarkan kepada mereka.

Hal lain yang menilai bahwa perkara ini sangat dipaksakan adalah, apa yang dilakukan Anwari itu konteksnya bertanya.

“Terdakwa kan bertanya dan pertanyaan itu ditanyakan atau disampaikan ke satu persatu orang termasuk ke rekan kerja pelapor. Terdakwa juga menanyakan perihal perkara yang menimpa suami pelapor ini ke polisi dan mendapat informasi memang benar ada perkara yang menjadikan suami Nanda Putri Parastati sebagai pihak yang dilaporkan di Polsek Sukomanunggal,” papar Dio.

Dengan adanya jawaban dari kepolisian itu, Dio kembali menilai bahwa informasi yang ingin ditanyakan terdakwa itu benar ada dan tidak mengada-ada.

Masih menurut Dio, pasal yang didakwakan penuntut umum tersebut baru bisa diketegorikan pencemaran nama baik melalui media sosial apabila apa yang ia tanyakan itu disebarkan di grup atau media sosial dan diketahui semua orang. (pay)

 

 

Related posts

Spencer’s Premium Grocery Buka Peluang Bisnis Pemasaran Susu Kacang Almond

redaksi

Sat Sabhara Polrestabes Surabaya Mendapat Pujian Dir Sabhara Polda Jatim

redaksi

20400 Paket Sembako Dibagikan Dihari Bhakti Adhyaksa Ke-61 Di Jawa Timur

redaksi