surabayaupdate.com
HEADLINE HUKUM & KRIMINAL INDEKS

Jaksa Dinilai Gagal Membuktikan Unsur Barang Siapa Dengan Sengaja Diperkara The Irsan Pribadi Susanto

The Irsan Pribadi Susanto bersama dua penasehat hukumnya usai menjalani persidangan. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) dinilai gagal membuktikan unsur barang siapa dengan sengaja pada persidangan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menjadikan The Irsan Pribadi Susanto sebagai terdakwa.

Penilaian gagalnya penuntut umum membuktikan unsur pidana yaitu barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga tersebut diungkapkan Filipus NRK Goenawan dan Dodik Iswandono usai persidangan.

Lebih lanjut dua pembela The Irsan Pribadi Susanto ini mengatakan, bahwa persidangan yang digelar secara tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (19/5/2022), penuntut umum menghadirkan The Irsan Pribadi Susanto untuk didengar kesaksiannya sebagai terdakwa dalam perkara KDRT ini.

“Yang menjadi point penting dalam persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa ini adalah unsur barang siapa dengan sengaja melakukan kekerasan didalam rumah tangga,” ungkap Filipus.

Terkait unsur tersebut, sambung Filipus, penuntut umum tidak bisa membuktikannya. Artinya, jaksa bisa dikatakan telah gagal menyatakan bahwa ada kekerasan yang dilakukan The Irsan Pribadi waktu itu secara sengaja kepada Chrisney Yuan Wang, istrinya.

“Yang terjadi selama ini adalah terdakwa tidak sengaja melakukan perbuatan sebagaimana diungkapkan dalam surat dakwaan penuntut umum,” jelas Filipus.

Ketidak sengajaan itu, lanjut Filipus, diceritakan terdakwa dimuka persidangan. Jadi, apa yang dilakukan terdakwa ketika itu spontanitas.

Spontanitas yang dimaksud terdakwa itu, kemudian diceritakan Filipus dan Dodik Iswandono, dua pembela The Irsan Pribadi Susanto dalam perkara ini.

“Pemukulan itu terjadi karena terdakwa dipukul anaknya dengan menggunakan tongkat baseball dan yang menyuruh adalah Chrisney Yuan Wang, pelapor,” ungkap Filipus.

Setelah dipukul anaknya, Filipus melanjutkan, dalam keadaan gelap, isterinya mengambil handphone. Terdakwa lalu berusaha meminta ponsel istrinya itu karena ada yang mencurigakan dari sikap sang istri.

Karena menolak memberikan ponselnya, lanjut Filipus, terjadilah pergumbulan untuk memperebutkan ponsel itu. Tanpa disadari terdakwa, Chrisney Yuan Wang yang berusaha mempertahankan ponselnya malah terkena tangan terdakwa Irsan.

Terkait adanya bukti Closed Circuit Television (CCTV) dan Visum Et Repertum, Filipus menambahkan bahwa dua bukti tersebut sudah dinyatakan tidak sah dalam sidang sebelumnya oleh ahli pidana Dr Dewi Setyowati.

Mengutip pernyataan ahli waktu itu, Filipus menjelaskan, ahli menyebut bahwa CCTV tidak memenuhi syarat formil dan materiil sehingga tidak sah dijadikan alat bukti.

Filipus kembali menjelaskan, di dalam Undang Undang KDRT, syarat subjektif dan objektif atau bukti formil, harus berkesesuaian dengan keterangan korban. Sedangkan visum et repertum yang diajukan penyidik ada ketidak sesuaian dengan jam pemeriksaannya.

“ Jadi memang ada ketidaksesuaian di dalam Visum Et Repertum. Waktu itu, Chrisney melakukan Visum jam lima, padahal saat itu dia sedang mengedit foto di tanggal tersebut. Itu ada dalam turunan berkas acara pemeriksaan,” papar Filipus.

Sementara JPU Nur Laila tidak memberikan komentar terkait hasil persidangan tak memberikan respon apapun. (pay)

Related posts

Pernyataan Saksi Di Berkas Perkara Dengan Surat Dakwaan JPU Berbeda. Ada Rekayasa Dan Fakta Yang Dipaksakan?

redaksi

Empat Departemen Di ITS Siap Disertifikasi AUN-QA

redaksi

Pengedar Sabu Wilayah Putat Jaya Barat Ditangkap Polisi

redaksi