surabayaupdate.com
HEADLINE HUKUM & KRIMINAL INDEKS

Dua Dokter Spesialis Dihadirkan Jaksa KPK Pada Persidangan Dugaan Korupsi Hakim Itong Isnaeni Hidayat

Hakim PN Surabaya non aktif Itaong Isnaeni Hidayat, saat diadili di Pengadilan Tipikor Surabaya didampingi Mulyadi, SH salah aatu penasehat hukum terdakwa. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

SIDOARJO (surabayaupdate) – Sidang dugaan tindak pidana korupsi yang menjadikan Itong Isnaeni Hidayat hakim non aktif Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjadi terdakwa, kembali dilanjutkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya.

Pada persidangan yang digelar diruang sidang Cakra Pengadilan Tipikor Surabaya, Selasa (2/8/2022), lima Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terdiri dari Yosi Andika Herlambang, Arif Rahman Irsady, Luhur Supriohadi, Sandy Septi Murhanta Hidayat dan Nur Haris Arhadi, menghadirkan dua orang dokter spesialis dan seorang advokat sebagai saksi dipersidangan ini.

Dua dokter spesialis yang didatangkan para jaksa KPK itu bernama Muhammad Sofyanto dan Yudi Her Oktaviano.

Dalam persidangan ini, dua saksi yang dihadirkan ini diperiksa bersamaan didalam ruang sidang, namun dimintai keterangan secara bergantian.

Selain itu, tim jaksa KPK sebenarnya juga mendatangkan satu orang advokat pada persidangan ini. Advokat itu bernama Yeremias Jerry Susilo. Namun, Yeremias tidak bisa datang sebagai saksi dipersidangan terdakwa Itong Isnaeni Hidayat ini.

Adalah saksi Muhammad Sofyanto yang mendapat kesempatan pertama kali untuk didengar kesaksiannya terhadap perkara ini.

Lebih lanjut dokter Muhammad Sofyanto mengatakan, bahwa awalnya sekitar tahun 2012 ia bersama Dr. Yudi Her Oktaviano dan Dr. Hadi membebaskan tanah seluas 1,5 hektar di Gempol Pasuruan.

“Tanah yang telah kami bebaskan dari masyarakat ini rencananya akan kami bangun rumah sakit,” kata Muhammad Sofyanto, Selasa (2/8/2022).

Uang yang disetorkan kepada Hadi Sunaryo, lanjut Sofyanto, untuk membebaskan tanah itu sekitar Rp. 5-6 miliar.

“Kemudian, dokter Hadi berhalangan dan memilih mengundurkan diri dari proyek pembangunan rumah sakit ini,” jelas Sofyanto.

Saksi Muhammad Sofyanto kembali menjelaskan, setelah mengetahui dokter Hadi mengundurkan diri, ia bersama Yudi Her Oktaviano mencari partner baru supaya pembangunan rumah sakit dapat diteruskan.

Masih menurut penjelasan saksi Muhammad Sofyanto dimuka persidangan, kemudian ia teringat dengan Achmad Prihantoyo yang telah ia kenal dari temannya yang bernama Edi Suwito sekitar 2014. Waktu itu, saksi Muhammad Sofyanto berpraktik di RS Husada Utama.

“Pak Prihantoyo ini saya tawari untuk bergabung membangun rumah sakit. Pak Pri bersedia dan ia mengajak temannya yang berna Abdul Majid,” cerita Muhammad Sofyanto.

Saksi Muhammad Sofyanto melanjutkan ceritanya, kemudian Achmad Prihantoyo dan Abdul Majid bersedia mengganti uang yang telah dikeluarkan dokter Hadi sebesar Rp. 12 miliar untuk pembangunan rumah sakit ini.

Masih menurut penjelasan dokter spesialis bedah syaraf ini, kemudian sekitar 2014 keempat orang ini sepakat untuk membuat Perseroan Terbatas (PT) baru namun tanah untuk rumah sakit sudah terbeli secara keseluruhan. Pembuatan PT. Soyu Giri Primedika (SGP) ini dilakukan didepan notaris tanggal 24 Maret 2014.

Untuk mengganti uang dokter Hadi membangun rumah sakit ini, Muhammad Sofyanto mengatakan, Achmad Prihantoyo dan Abdul Majid Umar masing-masing telah mengeluarkan uang sebesar Rp. 6,250 miliar sehingga totalnya Rp. 12,5 miliar.

Dan untuk modal awal pembangunan rumah sakit ini dalam bentuk pembelian tanah, saksi Muhammad Sofyanto dan Yudi Her Oktaviano telah mengeluarkan uang yang jumlahnya masing-masing Rp. 9,375 miliar.

Dua dokter spesialis yang didatangkan jaksa KPK sebagai saksi dipersidangan hakim Itong Isnaeni Hidayat. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Ketika di Bank Muamalat, saksi Muhammad Sofyanto melanjutkan, Achmad Prihantoyo dan Abdul Majid Umar mengeluarkan uang sebesar Rp. 1 miliar sebagai uang muka.

“Saat akan pelunasan di Bank Muamalat, PT telah terbentuk dan telah mempunyai rekening di Bank Muamalat. Seharusnya, Achmad Prihantoyo dan Abdul Majid Umar membayar uang pengganti yang telah dikeluarkan dokter Hadi ke dokter Maria atau dikenal dengan nama Dokter Merry sebagai istri dokter Hadi,” papar Sofyanto.

Namun saat itu, sambung Muhammad Sofyanto, terjadi perselisihan karena Achmad Prihantoyo meminta uangnya dimasukkan ke rekening PT dulu. Alasan Achmad Prihantoyo waktu itu supaya ada uang masuk ke PT. SGP.

Terkait modal dasar, Muhammad Sofyanto menjelaskan, ketika PT. SGP telah terbentuk, setoran modal dasar dan modal yang disetor masing-masing itu, Muhammad Sofyanto tidak melakukan setoran modal dasar karena telah membeli aset tanah bersama-sama dengan dokter Hadi dan Dr. Yudi Her Oktaviano.

Sedangkan Achmad Prihantoyo dan Abdul Majid Umar tidak setor sama sekali namun mengganti uang yang telah dikeluarkan dokter Hadi waktu itu untuk pembelian tanah.

“Achmad Prihantoyo memaksa agar uang yang hendak dibayarkan ke bu Merry dimasukkan ke rekening Bank Muamalat terlebih dahulu kemudian ditarik untuk ditransferkan ke bu Merry,” ungkap Muhammad Sofyanto.

Belakangan, lanjut Muhammad Sofyanto, hal itu diketahui sebagai alat untuk menyingkirkannya karena ia belum setor modal.

Muhammad Sofyanto kembali menerangkan, dihadapan notaris, telah diperjanjikan didepan notaris Juarayu, antara dirinya dengan Yudi Her Oktaviano dan Achmad Prihantoyo serta Abdul Majid Umar untuk mengganti uang yang telah dikeluarkan dokter Hadi. Perjanjian itu dalam bentuk akta notariil.

Pada persidangan ini, Muhammad Sofyanto juga menjabarkan, selain adanya pembagian saham, juga telah ditentukan jabatan masing-masing.

Muhammad Sofyanto kembali menerangkan, bahwa jabatan Komisaris Utama PT. SGP dijabat olehnya sedangkan Yudi Her Oktaviano sebagai Komisaris. Achmad Prihantoyo menjabat sebagai Direktur Utama.

Pada persidangan ini, Jaksa Yosi Andika Herlambang, jaksa KPK yang ditugaskan sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) diperkara ini kemudian membacakan pernyataan Muhammad Sofyanto sebagaimana tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Dalam BAP nomor 6 point 18 yang dibacakan Jaksa Yosi Andika Herlambang itu dikatakan, tanggal 13 Maret 2016 dihotel Santika Gubeng Surabaya, pengurus PT. SGP melakukan pertemuan untuk membuat perjanjian yang ditanda tangani Muhammad Sofyanto, Yudi Her Oktaviano, Achmad Prihantoyo dan Abdul Majid Umar yang pada intinya para pihak sepakat dan mengakui para pemegang saham telah melakukan setoran modal secara penuh sesuai dengan komposisi saham dan setoran modal dengan komposisi Muhammad Sofyanto dan Yudi Her Oktaviano masing-masing telah melakukan setoran modal sebesar Rp. 9,375 miliar dan Achmad Prihantoyo serta Abdul Majid Umar masing-masing telah melakukan setoran modal sebesar Rp. 6,250 miliar.

Selain menerangkan tentang modal dasar perusahaan, Muhammad Sofyanto juga menerangkan tentang adanya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilakukan beberapa kali.

Jaksa Yosi Andika Herlambang kemudian mempertanyakan tentang adanya pengurus baru di PT. SGP. Terkait dengan adanya pengurus baru ini, Muhammad Sofyanto menjelaskan, setelah PT. Sidogiri melakukan penambahan modal, Kyai Mahmud Zein masuk sebagai Komisaris Utama menggantikan dirinya. Kemudian, Muhammad Sofyanto sendiri di PT. SGP menduduki jabatan sebagai Komisaris.

Kemudian, jaksa KPK menanyakan adanya perubahan komposisi saham di PT. SGP ini. Menjawab pertanyaan Jaksa Yosi ini, saksi Muhammad Sofyanto mengakuinya. Dan perubahan komposisi saham itu karena adanya jual beli saham antara Achmad Prihantoyo dan PT. Sidogiri dengan Yudi Her Oktaviano.

“Adanya latar belakang jual beli saham itu, dari PT. Sidogiri karena adanya kesulitan keuangan. Hal itu disampaikan Kyai Mahmud Zein. Sedangkan pembelian saham Achmad Prihantoyo, saya tidak mengetahui kenapa,” paparnya.

Seluruh saham Achmad Prihantoyo dan Abdul Majid Umar mewakili PT. Sidogiri, sambung Muhammad Sofyanto, dibeli Yudi Her Oktaviano semuanya. Dan jual beli saham itu dibuatkan masing-masing akta notariil. (pay)

 

 

Related posts

Tiga ABG Merampas Hp Setelah Pesta Cukrik

redaksi

Yayasan Wings Peduli Kasih Kembali Beri Bantuan Ke Para Penyandang Craniofacial

redaksi

PEMPROV JATIM DITUDING MULUSKAN PEREDARAN MINUMAN BERALKOHOL DI SURABAYA

redaksi