surabayaupdate.com
HEADLINE INDEKS PENDIDIKAN & KESEHATAN

Sendy Krisna Puspitasari Resmi Menyandang Gelar Doktor

Sendy Krisna Puspitasari usai menjalani sidang ujian disertasi Doktor di Unair. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Setelah berjuang keras mempertahankan disertasinya didepan sembilan orang penguji, promovendus Sendy Krisna Puspitasari, S.Pd., M.Ps resmi menyandang gelar Doktor.

Gelar Doktor ini akhirnya disematkan usai sembilan orang Guru Besar dan tim penguji yang lain bertanya kepada Sendy seputar disertasi yang ia buat dan berdiskusi sejenak tentang materi disertasi yang dibuat Sendy.

Staf tenaga kontrak di Dinas Pendidikan Kota Surabaya ini tak kuasa menahan haru saat Prof.Dr.Rudi Purwono, S.E,M,SE., yang ditunjuk sebagai pimpinan sidang, menyatakan bahwa Sendy Krisna Puspitasi resmi dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan serta berhak menyandang gelar Doktor.

Bukan hanya itu, didepan para penguji dan tamu undangan, Prof.Dr.Rudi Purwono, S.E,M,SE., juga mengumumkan bahwa Sendy Krisna Puspitasari dinobatkan sebagai Doktor ke-61 di Universitas Airlangga (Unair) untuk program studi Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Pada sidang terbuka yang digelar Rabu (7/9/2022) ini, promovendus Sendy Krisna Puspitasari mempresentasikan disertasinya dihadapan sembilan penguji yang diantaranya adalah Guru Besar serta delapan undangan akademik, salah satunya Dr.(c) Dimaz Disianto, SH, MH, CPL, CPCLE.

Dalam ujian terbuka yang dipimpin Prof.Dr.Rudi Purwono, S.E,M,SE., tersebut, Sendy mengangkat disertasi dengan judul : Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Sentra Wisata Kuliner Surabaya.

Apa yang membuat Sendy begitu tertarik mengangkat tema tentang pedagang kaki lima di Surabaya dalam disertasinya menjadi promovendus?

Lebih lanjut Sendy mengatakan bahwa permasalahan terkait pedagang kaki lima di Surabaya ini sangat pelik.

Melihat kuantitas pedagang kaki lima di Kota Surabaya. Mereka memiliki ruang sendiri. Ruang sendirinya ini yang melanggar secara ketentuan Pemerintah Kota Surabaya,” kata Sendy.

Untuk itu, lanjut Sendy, perlu adanya pemberdayaan dari segi ruang, dimana ruang tersebut bisa menjadi ajang mereka menjalankan usahanya.

“Manfaatnya, bisa memberikan keamanan, kenyamanan dalam usaha di sentra wisata kuliner,” papar Sendy.

Atas dasar itulah, Sendy menilai bahwa implementasi pemberdayaan pada para pedagang kaki lima di sentra wisata kuliner di Surabaya ini bisa dikatakan berhasil sesuai tepat sasaran.

Sendy Krisna Puspitasari didampingi kedua orang tua tercinta. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

“Dalam arti pedagang dapat memperdayakan dirinya yang sudah difasilitasi pemerintah,” ujar Sendy saat mempresentasikan disertasinya.

Usai mendengar presentasi yang dipaparkan Sendy Krisna Puspitasari dan menilai jawaban-jawaban yang dilontarkan Sendy atas pertanyaan para penguji, pimpinan sidang pun mengumumkan bahwa disertasi Sendy Krisna Puspitasari terkait pedagang kaki lima tersebut akhirnya diterima.

Dengan kepastian ini, maka Sendy akhirnya disahkan menyandang gelar doktornya dalam ilmu Pengembangan Sumber Daya Manusia.

“Kepadanya diberikan hak memakai gelar doktor, dengan hak dan kewajiban yang melekat pada gelar tersebut,” tegas Rudi.

Usai menerima gelar doktor, Sendy mengatakan untuk menyelesaikan penelitian dalam disertasi ini, dirinya membutuhkan waktu selama dua tahun.

“Selama dua tahun dan untuk penulisannya kurang lebih 6 bulan,” kata Sendy.

Anak pertama dari dua bersaudara ini juga menjelaskan, tujuan disertasinya dengan adanya pemberdayaan pedagang kaki lima dapat membentuk pola pikir yang memotivasi individu dalam menjalankan usahanya.

“Jadi dalam disertasi saya ini lebih ke SDM-nya,” ujar Promovendus kelahiran tahun 1993 ini.

Dalam penelitiannya, Sendy juga mengalami beberapa kesulitan, salah satu saat pandemi Covid-19 dimana saat itu pemerintah sedang menggalakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sendy harus ijin ke Perlindungan Masyarakat (Linmas) dan SatPol PP untuk menemui para pedagang kaki lima.

“Kesulitannya saat covid-19, jadi harus ijin LINMAS, Satpol PP,” kata wanita yang masih berusia 28 tahun ini.

Dalam kesimpulan disertasinya, Sendy menyebut banyak keluhan pedangan kaki lima terkait aksesibilitas ruangan, dimana masih adanya lokasi yang tidak strategis.

Sendy kembali menegaskan, akibat dari kesulitan akses ruang itulah yang membuat para pedagang kesulitan mendapat pembeli. (pay)

 

Related posts

Pengawasan Kejati Jatim Akhirnya Hentikan Kasus Dugaan Pemerasan Jaksa SW

redaksi

Polda Jatim Panen Tangkapan Judi Beromzet Puluhan Juta

redaksi

Dalam Satu Minggu, Warga Binaan Rutan Medaeng Bisa Khatam Al-quran Sampai 3 Kali

redaksi