
JEMBER (surabayaupdate) – Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS) yang dilaksanakan di Kabupaten Jember berhasil memperbaiki status gizi bayi hingga 90,12 persen.
Selama tiga bulan, program PEGAS ini berhasil menurunkan angka stunting sebesar 16,05 persen dari total 81 balita peserta.
DI Kabupaten Jember, sebanyak 74,07 persen balita mengalami peningkatan status gizi secara signifikan.
Saat ini, 9,9 persen balita lainnya masih memerlukan pendampingan lanjutan untuk mencapai kondisi gizi yang optimal.
Program PEGAS mulai dilaksanakan pada Agustus 2025 dengan melibatkan 18 Puskesmas di wilayah Kabupaten Jember.
Sasaran program adalah balita usia 0–57 bulan yang mengalami stunting tanpa kelainan bawaan maupun infeksi kronis, seperti tuberkulosis, serta telah melalui proses skrining di Puskesmas.
Intervensi utama dalam program ini berupa pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) secara gratis, pemantauan rutin setiap dua minggu, serta pendampingan klinis yang dilakukan tim Dokter Spesialis Anak (DSA).
Pelaksanaan program ini turut didampingi tiga DSA, yaitu dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A dari RSD dr. Soebandi, dr. Natalia Kristianti Nugraheni, Sp.A dari RSD Balung dan dr. Mega Nur Purbo, Sp.A dari RSD Kalisat.
PKMK yang digunakan dalam Program PEGAS telah memenuhi standar PerBPOM nomor 24 tahun 2020 dengan spesifikasi unggul, di antaranya densitas energi 1,01 kkal/ml dan Protein Energy Ratio (PER) sebesar 10,4 persen.
Produk ini telah terbukti secara klinis pada populasi anak Indonesia dan terpublikasi secara internasional mampu meningkatkan berat dan tinggi badan anak setelah tiga bulan pemakaian pada populasi anak dengan malnutrisi.
Untuk memastikan efektivitas intervensi, program ini dilengkapi dengan pemantauan dan pengukuran rutin setiap dua minggu.
Selain itu, tim DSA lintas rumah sakit daerah di Kabupaten Jember juga melakukan pendampingan klinis yang dilakukan melalui metode telemedicine.
Melalui mekanisme ini, tenaga kesehatan Puskesmas dapat berdiskusi dan berkonsultasi secara daring dengan tim spesialis guna mengoptimalkan intervensi gizi sekaligus memperkuat edukasi berkelanjutan kepada orang tua.
Salah satu anggota tim DSA, dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A, menekankan bahwa stunting merupakan permasalahan multidimensional yang memerlukan pendekatan menyeluruh.
“Stunting memiliki faktor risiko yang beragam, sehingga penanganannya tidak hanya berfokus pada gizi, tetapi juga mencakup aspek kesehatan dan sosial-ekonomi,” ungkap dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A.
Deteksi dini sejak 1.000 hari pertama kehidupan, lanjut Nurul Ima Suciwiyati, menjadi kunci utama pencegahan dan penanganan stunting.
Salah satu pembelajaran penting dari program PEGAS di Jember adalah efektivitas pemberian PKMK sebagai intervensi gizi yang terpersonalisasi dan didukung pendampingan intensif dari DSA.
PKMK diberikan secara terstruktur selama tiga bulan, dengan penyesuaian dosis dan frekuensi berdasarkan toleransi masing-masing anak.
Strategi pemberian PKMK juga dirancang secara adaptif untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi.
PKMK disajikan dalam berbagai bentuk, seperti susu, puding, es lilin, kue, hingga cendol.
Variasi bentuk penyajian ini bertujuan meningkatkan penerimaan anak terhadap intervensi gizi yang diberikan sehingga hasil yang dicapai lebih optimal.
Sebagaimana diketahui, stunting merupakan permasalahan yang tidak hanya berkaitan dengan status gizi, tetapi juga dipengaruhi faktor kesehatan dan sosial-ekonomi.
Oleh karena itu, pendekatan penanganan dalam program PEGAS turut mencakup penguatan pola makan keluarga, dukungan pola asuh, penerapan gaya hidup sehat, hingga edukasi terkait pencegahan pernikahan dini.
Metode telemedicine yang diterapkan dalam program ini terbukti efektif, khususnya dalam pendampingan kasus severe stunting dan gizi kurang.
Hasilnya, sebanyak 90,12 persen anak peserta menunjukkan perbaikan status gizi selama periode program berlangsung.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Rachman Hidayat, S.Sos, menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan pelaksanaan program PEGAS dalam sesi penutupan program, Selasa (16/12/2025).
Rachman Hidayat menilai, program kolaboratif antara Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dengan berbagai sektor, termasuk sektor swasta, telah berkontribusi nyata dalam percepatan pencapaian zero stunting.
“Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi gizi yang tepat sasaran, terpantau, dan berkesinambungan, mampu memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi anak stunting,” kata Rachman Hidayat.
Ini menjadi bukti, sambung Rachman Hidayat, bahwa upaya penanganan stunting harus dilakukan secara serius, terstruktur, dan kolaboratif.
Rachman juga menambahkan, keberhasilan program PEGAS sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, di mana penurunan stunting dan perbaikan kualitas gizi masyarakat menjadi program prioritas.
Capaian positif ini menjadi semakin relevan dalam menyongsong Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari.
Momentum ini diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas gizi anak sejak dini.
Keberhasilan program PEGAS di Jember menunjukkan bahwa peringatan Hari Gizi Nasional tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi dapat dimaknai sebagai pengingat pentingnya implementasi program gizi yang nyata, terukur, dan berkelanjutan di tingkat daerah.
Rachman Hidayat kembali menerangkan, kolaborasi antara orang tua pasien, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan sektor swasta merupakan kunci utama percepatan penanganan stunting.
Ia pun berharap, keberhasilan program PEGAS di Kabupaten Jember dapat menjadi model intervensi gizi terarah yang dapat diadopsi dan dikembangkan di daerah lain sebagai bagian dari upaya kolektif menurunkan angka stunting di Indonesia. (pay)
