SURABAYA UPDATE
HEADLINE HUKUM & KRIMINAL INDEKS

PERTAMINA MINTA KPK TANGKAP HATTA RADJASA

massa yang tergabung dalam Pertamina, menggelar demo di Kejati Jatim, Jumat (20/6). Massa pendukung Pertamina, meminta Kejagung mau mengusut dugaan korupsi yang melibatkan Hatta Radjasa. (FOTO : Parlin/surabayaupdate)
massa yang tergabung dalam Pertamina, menggelar demo di Kejati Jatim, Jumat (20/6). Massa pendukung Pertamina, meminta Kejagung mau mengusut dugaan korupsi yang melibatkan Hatta Radjasa. (FOTO : Parlin/surabayaupdate)

SURABAYA (SurabayaUpdate) – Dianggap telah menyengsarakan rakyat, dengan menjadi makelar minyak dan gas (migas), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung (Kejagung) harus mampu menangkap Hatta Radjasa.

Seruan ini disampaikan massa yang tergabung dalam Perkuat Aspirasi Masyarakat Indonesia (Pertamina) Kota Surabaya, ketika melakukan aksi demo di depan kantor Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, Jumat (20/6).

Pertamina menilai, tingginya harga minyak yang terjadi di Indonesia, karena ulah Hatta Radjasa, apalagi saat ia masih menjabat Menteri Perekonomian. Hatta Radjasa bahkan dinilai sengaja, tidak membuat kilang pengolahan minyak mentah di Indonesia, supaya Indonesia terus mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Ferdinan, Ketua Pertamina mengatakan, tidak dibuatnya kilang pengolaan minyak di Indonesia itu adalah kesengajaan, supaya Indonesia terus mengimpor BBM dari Singapura, sebuah negara yang tidak mempunyai sumber minyak sama sekali.

“Meskipun Singapura tidak mempunyai sumber minyak sama sekali di negaranya, namun Singapura menjadi salah satu negara kaya dari berjualan minyak. Salah satu negara yang menjadi pelanggan tetap Singapura adalah Indonesia, “ ungkap Ferdinan.

Karena bodohnya pemimpin di Indonesia ketika Hatta Radjasa menjadi Menteri Perekonomian, lanjut Ferdinan, uang Indonesia makin terkuras karena terus mengimpor BBM dari Singapura. Dan yang menjadi mafia dalam kasus ini, salah satunya adalah Hatta Radjasa.

“Dengan terus menerus mengimpor BBM dari Singapura ini, Hatta Radjasa dan Muhammad Riza Chalid, yang menjadi mafia dalam kasus jual beli BBM ini, meraup keuntungan Rp. 100 miliar perhari atau Rp. 36 triliun per tahunnya, “ beber Ferdinan.

Masih menurut Ferdinan, sebagai anak buah Muhammad Riza Chalid, Hatta Radjasa mengendalikan Pertamina Trading Energy Ltd (Petral), anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang perdagangan minyak.

“Tugas utama Petral adalah menjamin supply minyak yang diinginkan Pertamina untuk kebutuhan dalam negeri. Tidak tanggung-tanggung, nilai importnya mencapai Rp. 300 triliun per tahun. Bahkan, untuk urusan harga import minyak, menjadi kewenangan Hatta Radjasa dan Muhammad Riza Chalid, “ pungkasnya.

Dalam rilisnya Pertamina menyebutkan, Muhammad Riza Chalid sudah dikenal sebagai mafia migas di Indonesia sejak kepemimpinan Presiden Soeharto. Riza menguasai Petral selama puluha tahun, melalui kerjasama dengan lima broker minyak.

Lima broker minyak itu adalah Supreme Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil dan Cosmic Petrolium yang berbasis di Singapura dan terdaftar di Virgin Island, sebuah Negara yang bebas pajak.

Meski nama Riza tidak tercantum dalam akta Global Energy Resources, dimana disana hanya tercantum nama Iwan Prakoso warga negera Indonesia, Wong Fok Choy dan Fernandez P Charles, namun Riza yang menjadi pengendalinya dan Hatta Radjasa sebagai tangan kanannya.

Melalui Hatta Radjasa, Muhammad Riza Chalid mengatur sebuah kondisi, supaya Indonesia sangat bergantung dengan Singapura untuk masalah impor migas dengan volume 200 juta barel per tahunnya. (pay)

Related posts