SURABAYA UPDATE
HEADLINE INDEKS PENDIDIKAN & KESEHATAN

Krismon Harus Naik Ke Atas Perbukitan Supaya Bisa Wisuda

Gambar Ilustrasi : Ahmad Krismon saat melakukan wisuda di atas bukit. (FOTO : kitapunya.id/istimewa)

PADANG (surabayaupdate) – Perjuangan Krismon supaya benar-benar menuntaskan proses belajarnya ditingkat perguruan tinggi bisa diacungi jempol.

Supaya bisa mengikuti wisuda yang digelar secara daring oleh perguruan tinggi tempatnya menuntut ilmu selama ini, pemuda yang mempunyai nama lengkap Ahmad Krismon ini rela mendaki perbukitan dan mendapatkan sinyal di Sungai Betung, Nagari atau Desa Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Agam, Sumbar.
Perjuangan pria yang akrab disapa Momon ini tak cukup sampai disitu. Pemuda asal Sumatera Barat ini juga harus menempuh perjalanan berjalan kaki sejauh dua kilometer ke area perbukitan hanya untuk mencari sinyal hp.
Dikutip dari kompas.com, Momon adalah wisudawan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Sumatera Barat.
Karena adanya pandemi Covid-19 di negeri ini, kampusnya menggelar wisuda secara daring. Momon salah satu mahasiswa yang dinyatakan lulus dan berhak  mengikuti prosesi wisuda.
“Hari ini wisuda. Proses wisuda sendiri dilakukan secara daring. Saya terpaksa harus naik ke atas bukit untuk mendapatkan sinyal, agar bisa ikut prosesi wisuda,” ujar Momon saat dihubungi Kompas.com, Kamis (27/8/2020).
Menurut wisudawan jurusan D3 Perbankan Syariah, IAIN Bukittinggi ini, untuk menuju bukit dari rumahnya, dia menggunakan sepeda motor ke lokasi, kemudian naik ke atas bukit dengan jalan kaki sekitar 200 meter.
“Tiba di atas bukit, baru dapat sinyal. Begitu dapat sinyal, baru bisa mengikuti prosesi wisuda,” ungkap Momon.
Momon juga mengatakan, mengikuti prosesi wisuda dengan memakai baju wisuda, merupakan kebanggan tersendiri, sehingga Momon rela mencari sinyal dengan cara naik bukit.
“Tanda kita lulus kuliah itu adalah wisuda. Memakai baju wisuda ketika lulus adalah dambaan saya. Naik ke bukit harus saya lakukan supaya saya bisa pakai baju wisuda dan ikuti prosesi wisudanya,” jelas Momon.
Keluarga Momon pun ikut ke bukit,  supaya mereka bisa menyaksikan prosesi wisuda secara langsung melalui video telekonferensi.
Iya, ayah, ibu, adik dan kakak dibawa semua. Mereka senang melihat prosesi wisuda. Ini hari bahagia kami,” tandas Momon.
Masih menurut Momon, andai saja tidak ada pandemi corona, ia bersama keluarganya bisa mengikuti prosesi wisuda secara langsung di kampus.
“Tapi ini juga seru, karena wisuda di atas bukit. Kita masih bisa saksikan prosesi wisuda dan dilihat kawan-kawan juga,” kata Momon.
Momon berharap, kondisi pandemi bisa berakhir sehingga semua aktivitas berjalan normal kembali.
Pandemi corona telah membatasi kebebasan masyarakat untuk beraktivitas, sehingga wisuda pun terpaksa harus dilakukan secara daring.
Harapan Momon yang lain adalah, kampungnya bisa mendapatkan akses jaringan internet yang lebih luas, sehingga tidak harus naik bukit untuk mendapatkan sinyal. (kdc/pay)

Related posts