SURABAYA UPDATE
HEADLINE INDEKS POLITIK & PEMERINTAHAN

RAZIA SATPOL PP DI SEMEMI DIKECAM

Razia yang dilakukan Satpol PP Kota Surabaya di Lokalisasi Sememi, Minggu (1/6) dini hari itu, mendapat kecaman para pemilik dan pengelola wisma. (FOTO : Parlin/surabayaupdate)
Razia yang dilakukan Satpol PP Kota Surabaya di Lokalisasi Sememi, Minggu (1/6) dini hari itu, mendapat kecaman para pemilik dan pengelola wisma. (FOTO : Parlin/surabayaupdate)

SURABAYA (SurabayaUpdate) – Meski berhasil mengamankan 26 wanita yang diduga kuat sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) di Lokalisasi Sememi, razia yang digelar Satpol PP Surabaya, Minggu (1/6) dini hari, pukul 02.00 Wib tersebut, mendapat kecaman.

Kecaman itu paling banyak dilontarkan para pemilik wisma dan pengelola wisma. Dengan tegas, para pengelola dan pemilik wisma yang berlokasi di Lokalisasi Sememi mempertanyakan kegiatan razia Satpol PP Kota Surabaya yang dibantu Kepolisian Polrestabes Surabaya dan Garnisun tersebut.

Sumarno, salah satu tokoh masyarakat dan pengurus LSM di Sememi misalnya. Agenda razia yang dilakukan Satpol PP itu terkesan mencari-cari dan tidak mempunyai sasaran yang jelas. Selain itu, Satpol PP Kota Surabaya juga terlihat diskriminasi.

“Razia yang mereka gelar ini tujuannya apa? Operasi Yustisi atau apa? Kalau memang razia ini untuk penertiban kartu identitas, kenapa Satpol PP membawa wanita-wanita itu, padahal sebagian besar dari mereka tersebut punya KTP, “ ujar Sumarno penuh tanya.

Selain itu, lanjut Sumarno, mengapa jumlah wisma yang dirazia hanya empat wisma saja. Untuk itu, ia akan mempertanyakan hal itu kepada Kasatpol PP Kota Surabaya terkait razia yang dilakukan di Sememi tersebut.

Kepala Bidang Pengawasan Satpol PP Kota Surabaya, Joko Widodo mengatakan, razia yang dilakukan ini karena ada laporan yang masuk, jika keempat wisma dimana para pekerjanya itu diamankan ke kantor Satpol PP karena melanggar kesepakatan.

Lebih lanjut Joko menerangkan, empat wisma di Sememi itu akhirnya diambil tindakan tegas karena masih tetap nekad menjalankan bisnis prostitusi, padahal beberapa waktu lalu, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, sudah memberikan dana kompensasi kepada eks PSK di sana.

“Keberadaan lokalisasi di Sememi Kecamatan Benowo itu sudah di tutup oleh Pemkot Surabaya. Sebagai bentuk kompensasinya, mereka itu sudah menerima bantuan dana sosial dari pemerintah. Herannya, mengapa wisma-wisma itu masih ada yang berani buka, “ kata Joko.

Bukan hanya para PSK-nya saja yang diamankan Satpol PP, lanjut Joko, para pemilik dan pengelola wisma tersebut, nantinya akan kami mintai keterangan pula. Usai razia, para pengelola dan pemilik keempat wisma ini, diminta datang untuk memberikan klarifikasi.

Menanggapi pemberian dana bantuan dari Dinsos tersebut, Sujono, Wakil Ketua Paguyuban Pengelola Wisma Sememi dengan tegas membantah, jika Pemkot Surabaya sudah memberikan dana kompensasi itu kepada seluruh PSK yang ada di Lokalisasi Moroseneng, Kelurahan Sememi.

“Silahkan di cek, termasuk kepada empat wisma yang para pekerjanya itu diamankan Satpol PP. Kalau perlu, para pekerjanya itu ditanya, apakah mereka yang tertangkap itu sudah menerima dana kompensasi seperti yang dinyatakan Pemkot Surabaya?, “ pungkasnya.

Ucapan Sujono ini ternyata dibenarkan para PSK yang terjaring razia. Bahkan ada diantara mereka yang mengaku tidak tahu jika ada uang kompensasi dari Pemkot Surabaya untuk dia, dengan syarat PSK itu harus berhenti dari profesi yang dijalani sekarang. (pay)

Related posts