SURABAYA UPDATE
HEADLINE INDEKS POLITIK & PEMERINTAHAN

Risma Gelar Video Conference Dengan 5 Kecamatan Yang Penyebaran Covid-19 Tertinggi Di Surabaya

Walikota Surabaya Tri Rismaharini. (FOTO : istimewa)

SURABAYA (surabayaupdate) – Setelah terungkap bahwa Jawa Timur menduduki peringkat pertama di Indonesia dan Surabaya sebagai kota tertinggi di Jawa Timur terkait dengan penyebaran Covid-19, Walikota Surabaya Tri Rismaharini langsung memberikan perhatian khusus.

Upaya pertama yang dilakukan Risma adalah berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait, khususnya kepada wilayah-wilayah yang terdampak Covid-19 cukup tinggi di Surabaya.

Sebagaimana dilansir kompas.com, Risma kemudian menggelar video conference dengan jajaran kecamatan, kelurahan dan para RW yang wilayahnya masih terindikasi banyak kasus Covid-19.

Beberapa wilayah yang diundang dalam video conference itu adalah wilayah Kecamatan Tambaksari, Kecamatan Gubeng, Kecamatan Bubutan, dan Kecamatan Tegalsari.

Kepada para perwakilan Rukun Warga (RW) yang diundang dalam video conference tersebut, Risma mengingatkan kembali prosedur kesehatan yang harus lebih diperketat kembali, mengingat wilayah mereka tersebut pandemi Covid-19 nya masih tinggi.

“Sengaja kami mengundang teman-teman RW, karena memang beberapa tempat di wilayahnya, pandemi Covid-19 nya masih tinggi. Saya berharap untuk bersama-sama melawan pandemi ini,” kata Risma saat di Balai Kota Surabaya, Sabtu (27/6/2020).

Yang harus diperhatikan, lanjut Risma,  dalam melawan pandemi ini adalah kedisiplinan untuk selalu menggunakan masker, jaga jarak, dan sering cuci tangan.

Risma meminta kepada para RW untuk tidak segan-segan mengingatkan atau menegur warga yang tidak menggunakan masker.

“Kita jangan segan mengingatkan warga ketika tidak menggunakan masker, termasuk di warung-warung. Karena, menurut para ahli, jika kita disiplin menggunakan masker, berarti kita sudah mengurangi 50 persen resiko penularan Covid-19,” ungkap Risma.

Pada kesempatan itu, Risma juga mengapresiasi kinerja para RW karena sudah bekerja keras menertibkan warga, dengan mengefektifkan satgas-satgas di Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo.

Menurut Risma, berkat kerja keras hingga pemberlakuan bloking itu, akhirnya penyebaran virus saat ini tidak ke samping atau tidak horizontal, tapi penyebarannya lebih kepada keluarganya masing-masing.

“Tugas kita semua saat ini, termasuk saya,  jajaran kecamatan, kelurahan dan teman-teman RW untuk merayu supaya pasien yang terkonfirmasi Covid-19 mau dirawat di rumah sakit, sehingga virusnya tidak menyebar ke keluarganya atau saudara-saudaranya,” ujar Risma.

Semua petugas, sambung Risma, diminta selalu menjaga jarak aman minimal 2 meter, apabila hendak merayu atau pun saat akan menolong pasien Covid-19.

“Kita tidak boleh sembrono, kita tidak boleh terlalu dekat. Petugas apapun juga tidak boleh terlalu dekat dengan pasien,” tegas Risma.

Risma pun menjelaskan salah satu alasan kenapa Surabaya harus menerapkan tatanan normal baru dan tidak memperpanjang PSBB, karena sudah banyak warga yang mengeluh.

Diungkapkan Risma, ada yang mengeluh diberhentikan dari tempat kerja, ada yang tidak bisa jualan hingga tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya.

“Makanya saya harus beranikan untuk membuka ini, dengan menjalani tatanan normal baru supaya perekonomian terus berlanjut. Tapi, kita harus lebih hati-hati dan lebih disiplin menjalankan protokol kesehatan,” tukasnya.

Risma menilai, Surabaya sebagai kota yang sangat terbuka dan banyak masyarakat yang bisa keluar masuk Surabaya. Untuk itu, masyarakat dihimbau harus lebih berhati-hati.

Apabila para RW menemukan masalah dalam menangani pandemi Covid-19 ini, Risma meminta mereka untuk segera melaporkan langsung di laman https://lawancovid-19.surabaya.go.id/.

Nantinya, akan ada tim gerak cepat yang akan membantu kelurahan mengatasi permasalahan RW tersebut. (kdc/pay)

Related posts