surabayaupdate.com
HEADLINE INDEKS POLITIK & PEMERINTAHAN

PENUTUPAN DOLLY DINILAI SEBAGAI BENTUK PENINDASAN RAKYAT KECIL

Salah satu pemilik rumah karaoke di Jalan Putat Jaya Gede yang menyampaikan aspirasinya kepada utusan Komnas HAM.
Salah satu pemilik rumah karaoke di Jalan Putat Jaya Gede yang menyampaikan aspirasinya kepada utusan Komnas HAM.

SURABAYA (SurabayaUpdate) – Detik-detik penutupan Lokalisasi Dolly terus diwarnai dengan berbagai aksi penolakan. Begitu hebatnya rencana menutup lokalisasi yang pernah menjadi terbesar di Asia Tenggara itu, sampai menarik perhatian Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM).

Seolah ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di Lokalisasi Dolly, beberapa perwakilan Komnas HAM, sampai datang ke Lokalisasi Dolly. Perwakilan Komnas HAM itu, bertemu langsung dengan para Pekerja Seks Komersial (PSK), para pekerja lokalisasi hingga pengurus dan pemilik wisma.

Kedatangan Komnas HAM ke Dolly ini bahkan dipakai ajang untuk mencurahkan isi hati para PSK, pengelola dan pemilik wisma hingga PSK. Satu persatu diantara mereka itu, mengaku menolak jika Dolly di tutup.

Amelia, salah satu PSK Dolly yang ikut dalam dialog dengan anggota Komnas HAM itu bahkan mengaku jika penutupan Dolly itu ada unsur lain. Penutupan Dolly itu adalah bukti ketidak berpihakan Walikota Surabaya terhadap warga miskin.

“Kita harus bersatu untuk menolak penutupan yang akan dilakukan Pemkot Surabaya tanggal 18 Juni nanti. Jangan percaya dengan janji-janji, dan jangan mau dibohongi. Ayo kawan-kawan, kita melawan. Jangan mau kita ditindas terus menerus oleh Pemkot Surabaya, “ kata Amelia.

Anisa menilai jika Walikota Surabaya hanya berani kepada rakyat kecil seperti para PSK yang ada di Dolly. Karena tindakan semena-mena walikota itulah, seluruh elemen masyarakat yang ada di Lokalisasi Dolly akan melawan penutupan lokalisasi.

Luapan kekecewaan yang disampaikan di depan perwakilan Komnas HAM itu, bukan hanya disampaikan para PSK Dolly. Beberapa pengelola wisma bahkan pemilik wisma secara terang-terangan mengatakan masih membutuhkan Lokalisasi Dolly.

Siti Aminah misalnya. Wanita 46 tahun, pemilik rumah karaoke yang terletak di Jalan Putat Jaya gang Lebar Surabaya ini dengan tegas mengatakan jika kebutuhan hidupnya selama ini ia dapat dari Lokalisasi Dolly.

“Belum ditutup saja omset saya perhari sudah turun drastis. Jika di hitung-hitung penurunan itu sampai 50 persen. Lalu bagaimana saya bisa menghidupi anak-anak saya, belum ditutup saja sudah susah mencari uang di Dolly ini, “ teriak Siti Aminah.

Untuk mengungkapkan kekesalannya, wanita ini sampai meneteskan airmata karena tidak bisa membayangkan, bagaimana nasibnya kelak, jika Dolly benar-benar di tutup Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Kepada Komnas HAM yang hadir dalam pertemuan ini, Siti Aminah meminta supaya Komnas HAM juga menentang rencana penutupan Dolly. Selain itu, Komnas HAM juga diharapkan berani melawan bentuk-bentuk intimidasi dan bentuk kekerasan lainnya, dalam upaya menutup Dolly secara paksa. (pay)

Related posts

Jika Sekolah SPI Merasa Dirugikan Secara Pemberitaan, Silahkan Mengadu Ke Dewan Pers

redaksi

Selama 12 Tahun Jadi TNI AD Gadungan, Bisa Kuliahkan Anak Dan Kredit Sepeda Motor

redaksi

Jaksa Dan Hakim Kasihani Brigadir Nanang Sucahyono Anggota Polisi Baharkam Ditpolair Mabes Polri

redaksi