surabayaupdate.com
EKONOMI & BISNIS HEADLINE INDEKS

Pasokan Langka, Harga Sapi Melambung Sampai Rp 38 Juta Per Ekor

Seorang pedagang yang ikut mengeluhkan menurunnya pasokan sapi potong di Surabaya. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)
Seorang pedagang yang ikut mengeluhkan menurunnya pasokan sapi potong di Surabaya. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Menurunnya pasokan sapi ke rumah-rumah pemotongan hewan di Surabaya, khususnya di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pegirian Surabaya membuat harga per ekor sapi menjadi mahal.

Mahalnya harga sapi potong per ekornya ini membuat sejumlah pedagang daging yang melakukan aktivitasnya di RPH Pegirian menjerit. Beberapa pedagang daging sapi yang mengeluhkan mahalnya harga per ekor sapi ini adalah Romlah.

Romlah mengatakan, karena menurunnya pasokan sapi ke RPH Pegirian untuk dipotong mengakibatkan sejumlah pedagang dan jagal mengeluh, karena setiap hari harus menanggung kerugian yang jumlahnya tidak sedikit.

“Jika dalam keadaan normal, artinya pasokan sapi ke RPH Pegirian tidak ada masalah dan lancar, harga satu ekor sapi Rp. 18-19 juta. Namun, karena pasokan sapi potong akhir-akhir ini mengalami penurunan, harga sapi potong hidup mencapai Rp. 23-28 juta, “ ujar Romlah.

Harga Rp. 23-28 juta ini, lanjut Romlah, untuk sapi ukuran sepi yang beratnya 3-6 kuintal dalam keadaan hidup. Harga ini akan melonjak ketika seorang pedagang bisa mendatangkan sapi potong dalam keadaan hidup dengan berat lebih dari 6 kuintal. Harga sapi itu akan melonjak hingga Rp. 38 juta per ekornya.

“Kalau pasokan masih normal dan tidak ada kendala, kami bisa mendapatkan sapi potong dalam keadaan hidup dari pada pedagang sapi atau pasar hewan yang dekat, seperti Madura. Namun, saat kondisi seperti ini, para pedagang dan pejagal sapi di RPH Pegirian, harus mencarinya di luar Jawa Timur, bahkan ada yang mendatangkan dari luar Jawa, “ ungkap Romlah.

Adanya pembengkakan harga ini menurut Romlah juga berpengaruh kepada beban biaya yang juga harus mereka tanggung untuk mendatangkan sapi potong dalam keadaan hidup. Akibatnya, rata-rata pedagang yang beraktivitas di RPH Pegirian ini, harus menanggung kerugian Rp. 2-3 juta perharinya.

Salah satu aktivitas yang terjadi di RPH Pegirian. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)
Salah satu aktivitas yang terjadi di RPH Pegirian. (FOTO : parlin/surabayaupdate.com)

Selain Romlah, kerugian yang dirasakan akibat penurunan stok sapi potong dalam keadaan hidup, juga dirasakan Hasyim. Pedagang sapi sekaligus jagal yang sudah bekerja di RPH Pegirian sejak tahun 1990 ini mengatakan, kelangkaan ini mulai dirasakan setelah Hari Raya Idul Adha Desember lalu.

Puncaknya, stok sapi potong berangsur-angsur langkah dan makin sulit didapat setelah Natal. Beberapa tempat di Jawa Timur yang selama ini memasok sapi potong dalam keadaan hidup, menurunkan atau mengurangi pasokannya.

“Penurunannya tidak sedikit, hampir 90 persen sehingga sekarang kami hanya kebagian 10 persen saja. Jika di waktu normal, jumlah sapi yang dikirimkan ke RPH Pegirian ini 100-150 ekor perhari, sekarang hanya 10-15 ekor per hari, “ ujar Hasyim.

Dari segi harga- lanjut Hasyim, untuk sapi potong hidup yang dikirimkan ketika tidak ada masalah harganya Rp. 18-19 juta dengan berat 2-4 kuintal dalam keadaan hidup, namun beberapa minggu ini harga sapi potong hidup menjadi Rp. 23-28 juta.

Hasyim juga menceritakan, selama ini para pejagal sapi di Surabaya, dipasok dari pasar-pasar hewan dan feedloter yang berada di Jawa Timur, Madura dan Bali. Pemasok paling besar adalah Lumajang dan Probolinggo.

“Sapi-sapi dari Bali, dulu banyak juga. Tapi sekarang, sapi-sapi dari Bali sudah tidak ada lagi. Meski beberapa daerah di Jawa Timur masih mengirimkan stoknya ke Surabaya, namun jumlahnya tidak banyak dan harganya sangat mahal. Para pedagang sebenarnya sudah tidak mampu lagi untuk membelinya. Namun karena permintaan yang cukup banyak, para pedagang mau tidak mau harus membeli sapi-sapi itu dengan harga yang hampir 2 kali lipat, “ kata Hasyim.

Dengan kondisi langka seperti ini, Hasyim dan para pejagal sapi di RPH Pegirian Surabaya berharap ada campur tangan dan kepedulian pemerintah daerah dan pusat untuk segera mengatasi masalah ini.

Selain merugikan masyarakat, kerugian ini juga dirasakan para pedagang dan para pejagal sapi. Jika sebelum stok sapi langka, para pejagal sapi mampu memotong 10-15 sapi tiap malamnya, namun saat ini para pejagal ini hanya mampu memotong 1-2 ekor saja. (pay)

 

Related posts

Mengaku Dari Mahasiswa, Datangi BBWS Pertanyakan Penertiban Sempadan Kali Sungai Bulak Endok Desa Tambak Rejo Kecamatan Waru

redaksi

Ahli Pidana Beri Penilaian Terhadap Penghentian Perkara Wakil Bupati Bojonegoro

redaksi

SERIBU PERSONIL TNI DAN POLRI DISIAPKAN UNTUK AMANKAN PENUTUPAN DOLLY

redaksi