SURABAYA UPDATE
HEADLINE INDEKS POLITIK & PEMERINTAHAN

TIGA OKNUM POLISI DIMASSA KARENA MEMERAS

Aipda Eko Siswandi, anggota polisi dari Polsek Mulyorejo Surabaya, dihajar massa atas dugaan pemerasan yang dilakukannya bersama dua anggota polisi lainnya. (FOTO : Parlin/surabayaupdate)
Aipda Eko Siswandi, anggota polisi dari Polsek Mulyorejo Surabaya, dihajar massa atas dugaan pemerasan yang dilakukannya bersama dua anggota polisi lainnya. (FOTO : Parlin/surabayaupdate)

SURABAYA (SurabayaUpdate) – Tiga orang oknum polisi Surabaya, ditangkap kemudian dihajar secara beramai-ramai hingga babak belur. Satu orang oknum polisi itu dikabarkan kritis, karena pukulan ratusan massa yang beringas.

Adalah Aipda Eko Siswandi dan Bripka Sulton anggota polisi Polsek Mulyorejo serta Briptu Ivan Fanani anggota polisi Polsek Sukolilo, ditangkap massa karena mengaku sebagai anggota polisi dari Polsek Taman.

Massa yang curiga dengan ketiga oknum polisi itu, karena menduga ketiga polisi tersebut adalah polisi gadungan, langsung menangkapnya secara beramai-ramai kemudian menghajar tiga anggota polisi yang berdinas di wilayah hukum Polrestabes Surabaya tersebut secara bergantian.

Pemukulan itu terjadi Kamis (19/6) pukul 16.45 Wib. Saat itu, ketiga polisi ini, mengamankan Dede Tri Istianto alias Anto, yang dikenal sebagai pengepul judi togel. Tertangkapnya Anto itu, berkat pengakuan Poniman, pengecer togel di Desa Dungus, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.

Informasi dari pihak Kepolisian menyebutkan, ketika Poniman tertangkap, ketiga oknum polisi ini menawarkan damai. Setelah melalui proses negosiasi yang cukup panjang, akhirnya ketiga polisi itu membebaskan Poniman.

“Disaat ketiga polisi itu menangkap Poniman, ketiga polisi itu melakukan proses penyidikan. Dari pemeriksaan yang sudah dilakukan terhadap Poniman, ketiga polisi yang melakukan pemerasan tersebut mendapatkan sebuah nama, yaitu Dede Tri Istianto, “ ungkap sumber di kepolisian.

Usai melepaskan Poniman itulah, lanjut sumber, ketiga oknum polisi tersebut kemudian mencari Dede. Dari proses damai yang dilakukan dengan Poniman, ketiga oknum polisi ini mendapatkan uang Rp. 3 juta.

Untuk menangkap Dede, ketiga oknum polisi itu menunggu saat bukaan judi togel. Tak lama kemudian Dede pun tertangkap. Karena takut berurusan dengan hukum, Dede pun mencoba melobi ketiga polisi ini.

Lalu, besarya uang damai pun dibicarakan masing-masing pihak. Dede kemudian menghubungi pihak keluarganya dan mengatakan bahwa dirinya tertangkap tiga orang polisi dari Polsek Taman.

Salah satu kerabat Dede kemudian melakukan pengecekan identitas ke Polsek Taman. Ternyata, identitas yang diberikan ketiga oknum polisi yang menangkap Dede itu palsu. Hal inilah yang membuat massa menjadi marah dan merencanakan penangkapan terhadap ketiga oknum polisi yang pada awalnya mereka pikir polisi gadungan.

Utusan keluarga kemudian mengirimkan uang sebesar Rp. 4 juta sebagai uang tebusan supaya Dede tidak ditangkap. Begitu uang diterima dan Dede dilepaskan, beberapa massa yang sudah menanti, kemudian datang berbondong-bondong, menghentikan ketiga oknum polisi tersebut.

Briptu Ivan Fanami yang awalnya lolos dari massa akhirnya dapat ditangkap dan dihajar secara membabi buta. Massa akhirnya menghentikan aksi pemukulan setelah ketiganya mengaku bahwa mereka benar-benar polisi dan bertugas di Surabaya. (pay)

Related posts