Erupsi Gunung Bromo Adalah Berkah Bagi Masyarakat Sekitar

gambar ilustrasi Gunung Bromo ketika mengeluarkan erupsi. Hal ini adalah siklus lima tahunan yang dilakukan Gunung Bromo.

gambar ilustrasi Gunung Bromo ketika mengeluarkan erupsi. Hal ini adalah siklus lima tahunan yang dilakukan Gunung Bromo.

PROBOLINGGO (surabayaupdate) – Meski erupsi Gunung Bromo hingga kini masih terus terjadi, hal ini tidak membuat takut masyarakat sekitar, khususnya masyarakat Tengger, Probolinggo. Bahkan, menurut mereka, siklus lima tahunan ini mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat Tengger.

Tak tampak sedikitpun rasa takut di wajah penduduk asli Tengger dengan terjadinya erupsi Gunung Bromo. Meski semburan erupsi yang dikeluarkan Gunung Bromo ini besar, hal ini tidak menyurutkan niat masyarakat Tengger untuk tetap melakukan aktivitas sehari-hari mereka.

Kedatangan ratusan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang ingin melihat proses terjadinya erupsi Gunung Bromo, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Tengger yang menggantungkan hidup mereka di obyek wisata Bromo.

Wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang di pagi hari untuk melihat kepulan asap tebal yang membumbung tinggi dari kawah Gunung Bromo, adalah berkah tersendiri bagi para pedagang maupun masyarakat Tengger yang menyewakan kuda di area seruni point atau penanjakan parkir I maupun parkir II.

Yanto, salah satu penduduk lokal yang mempunyai usaha menyewakan kuda kepada para wisatawan di obyek wisata Gunung Bromo mengakui bahwa setiap terjadinya erupsi Gunung Bromo, penghasilannya selalu meningkat, tidak terkecuali erupsi yang terjadi kali ini.

Sebagai seorang joki kuda di seruni point, Yanto mengaku bahwa pendapatannya dari menyewakan kuda kepada para wisatawan bisa mencapai Rp. 300 ribu hingga Rp. 500 ribu per hari.

“Terjadinya erupsi yang menjadi siklus lima tahunan ini, mendatangkan rejeki tersendiri bagi saya dan masyarakat sekitar yang mempunyai usaha persewaan kuda. Perhari, saya bisa mendapatkan penghasilan Rp. 300 ribu sampai Rp. 500 ribu, “ ungkap Yanto.

Meningkatnya penghasilan yang Yanto terima perharinya itu, tidak lepas dari banyaknya pengunjung yang ingin menyaksikan keindahan Gunung Bromo ketika mengeluarkan semburan. Para wisatawan ini, jumlahnya sangat banyak di seruni point parkir I maupun seruni point parkir II.

Mengapa seruni point ketika terjadinya erupsi Gunung Bromo sangat ramai wisatawan? Yanto menambahkan, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Pemerintah Daerah (Pemda) Probolinggo mengeluarkan aturan yang harus dipatuhi seluruh wisatawan di kawasan Gunung Bromo.

“Aturan itu berbunyi wisatawan dilarang untuk terlalu mendekat dengan Gunung Bromo apalagi dengan lokasi terjadinya erupsi. Wisatawan hanya diperbolehkan melihat terjadinya erupsi tersebut dari jarak 2,5 km dari Bromo. Inilah yang menjadi jarak aman bagi para wisatawan yang ingin melihat semburan dari kawah Gunung Bromo, “ papar Yanto.

Sementara itu, Ketua Forum Ekowisata Gunung Bromo, Probolinggo, Supoyo mengatakan, meski ada pembatasan dari Pemda Probolinggo untuk melihat erupsi Gunung Bromo, wisatawan tidak perlu berkecil hati. Sebab, para wisatawan yang penasaran ingin melihat terjadinya erupsi, bisa melihatnya dari seruni point.

“Bagi mereka yang sudah terbiasa datang ke Bromo untuk melihat erupsi Gunung Bromo, mereka langsung menuju ke seruni point karena dari tempat ini, keindahan Gunung Bromo ketika mengeluarkan semburan asap tebal, terlihat jelas, “ papar Supoyo.

Keramahan warga sekitar, lanjut Supoyo, ditambah rasa aman dan nyaman melihat semburan Gunung Bromo dari seruni point, membuat tempat ini menjadi tempat idola para wisatawan yang ingin melihat erupsi Gunung Bromo.

Erupsi Gunung Bromo ternyata jadi penilaian tersendiri bagi Kapendam V/Brawijaya, Kolonel Inf. Washington Simanjuntak. Lebih lanjut Washington mengatakan, tidak ada yang perlu ditakutkan untuk datang ke Bromo. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Bromo. (pay)