Kuman Kebal Obat Jadi Perhatian Serius Para Ahli Mikrobiologi Dan Penyakit TB

Dr. Soedarsono, Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K), Prof. Maria Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D., Sp.MK(K) dan Prof. Dr. Kuntaman, usai press conference. (FOTO : PIH Unair untuk surabayaupdate.com)

Dr. Soedarsono, Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K), Prof. Maria Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D., Sp.MK(K) dan Prof. Dr. Kuntaman, usai press conference. (FOTO : PIH Unair untuk surabayaupdate.com)

SURABAYA (surabayaupdate) – Untuk mengenal lebih jauh tentang Tuberculosis (TB) dan bagaimana cara penanganannya, serta kemunculan kasus-kasus baru pada sebuah penyakit, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berencana menggelar seminar tentang penyakit TB dan bagaimana solusi penangananya.

Seminar ini rencananya akan dilaksanakan selama 2 hari sejak tanggal 8-9 Agustus 2016, bertempat di  di di Aula FK UNAIR. Selain diikuti beberapa dokter ahli microbiologi dan TB dari Indonesia, seminar ini juga akan diikuti ahli dari Jepang, Belanda dan Amerika.

Dalam press conference di FK UNAIR, Jumat (29/7) kemarin, Dr. Soedarsono mengatakan, seminar ini terselenggara berkat kerjasama FK Unair dengan Institute of Tropical Diseases (ITD) Unair. Dalam press conference ini, Dr. Soedarsono, dr., Sp.P(K) yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia International Seminar on Global Strategy to Combat Emerging Infectious Diseases in Borderless Era (GSEID 2016) juga didampingi beberapa ahli mikrobiologi dan penyakit TB.

Para ahli yang mendampingi Dr. Soedarsono dalam press conference itu seperti Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK(K)., Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K) yang menjabat sebagai Wakil Dekan III FK UNAIR, dan Prof. Maria Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D., Sp.MK(K) Ketua ITD UNAIR.

Kemudian, beberapa ahli dari luar negeri yang diundang pada seminar ini antara lain Prof. Toshiro Shirakawa MD., Ph.D dari Kobe Iniversity, Prof. Keigo Shibayama MD, Ph.D dari National Institute of Infectious Disease, Japan, Prof. Katsushi Tokunaga, PhD dari Tokyo University, Prof. Dr. Mark A. Graber, MD, MSHCE, FACEP dari Iowa University USA, Prof. Dr. Eric C.M van Gorp dari Erasmus Medical Center, Rotterdam, dan Dr. Carmelia Basri, M.Epid yang menjabat sebagai Senior Public Health Consultant. Sebagai keynote speaker dr. H. Muhamad Subuh, MPPM., Dirjen P2P Kemenkes RI.

Mengapa seminar ini sangat penting ? Lebih lanjut Dr. Soedarsono mengatakan, Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi TB tertinggi di dunia. TB sendiri selama ini dikenal sebagai penyakit yang benar-benar bandel dan sangat sulit untuk diberantas.

“TB adalah sebuah penyakit yang menyerang dan merusak jaringan organ paru masyarakat Indonesia dan sangat sulit diberantas. Selama 20 tahun, pemerintah Indonesia gencar melaksanakan program pengendalian TB, namun nyatanya TB masih menjadi penyakit infeksi yang sangat sulit untuk diobati dan menyebabkan angka kesakitan serta kematian nomor 3 di Indonesia, “ papar Soedarsono.

Dari realita inilah, lanjut Soedarsono, Unair tergerak untuk mengadakan seminar ini untuk mencari solusinya dengan menghadirkan narasumber yang terdiri dari dokter-dokter spesialis baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Tujuannya mencari solusi bagaimana cara menangani TB.

Selain mengupas masalah TB, para dokter spesialis yang dihadirkan dalam seminar ini juga akan membahas kasus-kasus baru yang muncul seperti penyakit penyerta (komorbit) HIV-AIDS, diabetes, resistensi Mycobacterium tuberculosis atau kuman kebal obat yang disebut multi-drug resistance (TB MDR).

“Kasus demikian muncul karena dampak dari lamanya pengobatan TB hingga sampai 6 bulan non-stop hingga muncul rasa bosan, jenuh, berganti dengan obat yang lain, atau kebiasaan obat diminum setengah, sehingga penyakit tak sembuh-sembuh akibatnya bakteri penyebab TB yaitu mycobacterium tuberculosis complex menjadi kebal atau resisten terhadap obat, “ ungkap Soedarsono.

Dalam seminar nanti, sambung Soedarsono, kasus-kasus seperti ini juga akan turut dibahas termasuk bagaimana pengobatannya, dengan meng-kolaborasikan hasil penelitian pakar-pakar dari luar negeri,” kata Soedarsono.

Soedarsono juga mengatakan, di tingkat global Indonesia saat ini berada di urutan 8 dari 27 negara dengan TB-MDR yang terbesar di dunia dengan perkiraan kasus TB-MDR di Indoensia mencapai 6.900 kasus. Program pengobatan TB-MDR sudah diterapkan secara menyeluruh pada rumah sakit di Indonesia sejak tahun 2009.

“Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai penerapan program pengobatan TB-MDR di rumah sakit yang lamban, masalah diagnosis yang cepat, efek samping yang lebih banyak, komitmen dari berbagai pihak yang kurang memadai, membuat kasus penularan TB-MDR makin bertambah banyak sehingga perlu adanya intervensi dengan mencari akar permasalahan sehingga kedepan program pengobatan TB MDR lebih berhasil,” ujar Pulmonologist RSUD Dr.Soetomo dan FK UNAIR ini.

Sementara itu, Prof. Kuntaman mengatakan, bakteri resisten yang menjadi perhatian dunia saat ini ada tiga kelompok. Pertama, Methicillin Resistant Staphycoccus aureus(MRSA) yaitu resisten terhadap semua obat golongan penisilin dan turunannya. Prevalensinya tahun 2002 kurang dari 1% dan tahun 2015 telah meningkat menjadi 8%.

“Kelompok yang kedua adalah bakteri penghasil Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) yang telah resisten terhadap antibiotika generasi baru dari penisilin dan turunannya, kecuali beberapa yang masih sensitif. Tahun 2006, jumlahnya baru mencapai 24%, tetapi tahun 2013 sudah mencapai 38-66%. Untuk tahun 2016 ini, jumlahnya mungkin makin tinggi lagi,” papar Kuntaman.

Guru Besar Ilmu Mukrobiologi Klinik FK UNAIR ini menambahkan, untuk kelompok ketiga adalah Carbapenem Resistance Enterobacteriaceae (CRE) yang merupakan ancaman terbaru, dimana bakteri ini telah resisten terhadap antibiotika pamungkas yang dimiliki Indonesia maupun dunia pada umumnya.

Bahteri ini sudah dideteksi di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Surabaya. Dan Indonesia ini sangat luas, sehingga informasi terbaru bakteri resisten mungkin tidak merata. Inilah tanggungjawab para ahli ilmu kedokteran untuk menyebarluaskannya. (pay)